Purchasing managers' index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke level 46,9 pada Juni 2026 atau masuk ke zona kontraksi. Namun, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan minat investasi di kawasan ekonomi khusus (KEK) tetap kuat dan sejumlah investor masih mengantre untuk masuk.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, PMI manufaktur tidak dapat dinilai hanya dari pergerakan bulanan karena investasi memiliki horizon jangka panjang.
"Jadi kalau membaca PMI itu kan ada ekspektasi sampai 6 bulan, 12 bulan ke depan. Itu kan juga komponen pilarnya, optimismenya malah positif sebenarnya. Jadi enggak bisa kita spot melihat angka itu," kata Susiwijono di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (6/7/2026).
Menurut Susiwijono, investasi di sektor manufaktur membutuhkan waktu sebelum menghasilkan aktivitas produksi. Setelah investor memutuskan berinvestasi, pembangunan pabrik hingga operasional umumnya memerlukan waktu sekitar dua hingga tiga tahun.
"Industri manufaktur investasinya kan kalaupun sekarang, nanti kan konstruksi dan lain-lainnya kan perlu 2-3 tahun ke depan. Tadi kan bicara investasi. Kalau PMI kan tiap bulan, indeks tiap bulan," ujarnya.
Ia menegaskan investasi yang saat ini dibahas pemerintah merupakan investasi riil yang telah masuk dalam antrean di KEK. Karena itu, pelemahan PMI dalam satu bulan tidak bisa langsung diartikan sebagai turunnya minat investor terhadap kawasan tersebut.
Susiwijono juga menjelaskan tidak semua KEK berfokus pada sektor manufaktur. Dari 25 KEK yang telah beroperasi, sebanyak 13 kawasan bergerak di sektor manufaktur, sedangkan sisanya mengembangkan sektor jasa dan sektor lainnya.
"KEK tidak seluruhnya bergerak di sektor manufaktur. Dari 25 KEK yang ada, hanya 13 yang berbasis manufaktur, sedangkan sisanya bergerak di sektor jasa dan sektor lainnya," katanya.
Meski PMI melemah, pemerintah menyebut investasi manufaktur di KEK masih menunjukkan perkembangan. Beberapa sektor yang terus berkembang antara lain pengolahan mineral, elektronik, tekstil, furnitur, alas kaki, hingga industri baterai kendaraan listrik.
Susiwijono mencontohkan KEK Galang Batang yang mengembangkan industri pengolahan bauksit menjadi alumina, sementara KEK Kendal menampung berbagai industri manufaktur seperti elektronik, peralatan rumah tangga, tekstil, furnitur, alas kaki, serta komponen baterai kendaraan listrik.
Sebelumnya, S&P Global melaporkan PMI manufaktur Indonesia turun menjadi 46,9 pada Juni 2026 dari 50,0 pada Mei 2026. Penurunan tersebut dipicu melemahnya permintaan terhadap produk manufaktur Indonesia.
"Tingkat penurunan merupakan yang paling kuat dalam setahun, pesanan baru yang masuk kembali menurun menyebabkan penurunan volume output terbesar sejak bulan April 2025," kata Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti.
S&P Global juga mencatat lemahnya permintaan mendorong perusahaan mengurangi output produksi, aktivitas pembelian, persediaan, hingga jumlah tenaga kerja.
"Menanggapi keadaan ini, perusahaan menurunkan jumlah tenaga kerja dan aktivitas pembelian mereka besar-besaran, sementara inventaris juga menurun seiring melemahnya kondisi permintaan," pungkas Usamah.
Sumber: https://www.beritasatu.com




