Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) optimistis volume penjualan produk keramik tahun ini akan melesat terdongkrak permintaan dari proyek Ibu Kota Nusantara (IKN).

Ketua Umum Asaki Edy Suyanto mengatakan optimisme tersebut didorong rampungnya pembangunan gedung-gedung kementerian dan perumahan untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) yang akan segera dilakukan pertengahan tahun ini.

"Kami optimistis permintaan keramik dari proyek IKN bisa membantu meningkatkan kinerja penjualan keramik tahun 2024 ini," kata Edy kepada Bisnis, Senin (26/2/2024).

Edy menjelaskan, potensi dan peluang penjualan keramik cukup besar mengingat rencana biaya pembangunan IKN yang berkisar Rp466 triliun hingga proyek tersebut rampung.

Terlebih, pemerintah menerapkan kebijakan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN) dengan sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk memasok kebutuhan pembangunan IKN.

"Seperti kita ketahui untuk produk keramik nasional rata-rata memiliki kandungan TKDN di atas 70%," ujarnya.

Untuk memenuhi kebutuhan nasional yang diproyeksi semakin tinggi tahun ini, anggota Asaki tengah melaksanakan tahapan ekspansi kapasitas sebesar 75 juta meter persegi yang dimulai sejak 2021 dan ditargetkan selesai tahun ini.

Adapun, besaran volume ekspansi kapasitas produksi tersebut setara dengan 100% angka impor keramik per tahun dengan total nilai investasi Rp20 triliun dan akan menyerap kurang lebih 10.000 tenaga kerja baru.

Dalam hal ini, Edy menegaskan pihaknya siap memasok berbagai jenis komponen bangunan seperti keramik ubin, genteng keramik, sanitary ware dan tableware.

"Kami siap mendukung semua kebutuhan bahan bangunan untuk proyek infrastruktur pembangunan IKN Nusantara untuk saat ini dan terus berkelanjutan sampai selesai di tahun 2045," tegasnya.

Lebih lanjut, Edy menuturkan, kehadiran IKN sudah semestinya didukung dengan keseriusan pemerintah dengan melanjutkan kebijakan harga gas bumi tertentu (HGBT) yang telah terbukti efektif mendorong pertumbuhan indsutri.

Menurut dia, HGBT berhasil meningkatkan daya saing industri keramik nasional. Meskipun, dalam penerapannya belum berjalan maksimal sesuai harapan pelaku usaha perihal kelancaran supply gas.

Pasalnya, distribusi gas murah dari PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. atau PGN belum merata ke industri di Jawa Barat maupun Jawa Timur dengan penerapan Alokasi Gas Industri Tertentu (AGIT). Hal ini menyebabkan manfaat dari HGBT belum sepenuhnya dirasakan oleh industri.

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com