Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan pemerintah menargetkan Indonesia menjadi pusat manufaktur dunia pada 2045 melalui penguatan sumber daya manusia (SDM) industri yang unggul, kompeten, dan siap kerja.
"Tahun 2045, kita ingin Indonesia memasok dunia, kita ingin Indonesia menjadi pusat manufaktur dunia," kata Agus saat acara Pelepasan Lulusan SMK-SMAK dan SMTI serta Studium Generale di Bogor, Jawa Barat, Kamis.
Menurut Agus, pembangunan SDM vokasi industri menjadi fondasi utama untuk mewujudkan target tersebut. Pendidikan vokasi dinilai sebagai investasi strategis dalam menyiapkan tenaga kerja terampil yang akan menjadi motor penggerak transformasi industri nasional.
Ia menyebut sektor industri manufaktur masih menunjukkan kinerja yang kuat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan tumbuh 5,04 persen pada triwulan I 2026, menyumbang 19,07 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja, serta berkontribusi sekitar 82 persen terhadap ekspor nasional.
"Artinya, sektor industri bukan bidang yang sedang melemah, tetapi terus tumbuh dan membutuhkan tenaga-tenaga baru yang kompeten. Tangan-tangan para lulusan inilah yang akan menjadi bagian penting dari masa depan industri Indonesia," ujar Agus.
Ia menegaskan, visi menjadikan Indonesia sebagai pusat manufaktur dunia sejalan dengan agenda Presiden Prabowo Subianto yang mendorong percepatan industrialisasi dan hilirisasi di dalam negeri.
Menurut Agus, keberhasilan hilirisasi sangat bergantung pada ketersediaan tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri.
"Tidak ada hilirisasi tanpa laboratorium, dan tidak ada laboratorium tanpa analis. Tidak ada pabrik yang berjalan tanpa teknisi yang terampil. Cita-cita besar menjadikan Indonesia sebagai pusat manufaktur dunia tidak diwujudkan di ruang rapat, tetapi di meja laboratorium dan di lantai produksi. Di sanalah para lulusan SMK-SMAK dan SMTI akan mengambil peran penting," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Kementerian Perindustrian melepas 2.369 lulusan dari sembilan sekolah vokasi yang berada di bawah pembinaan kementerian. Sekolah-sekolah tersebut memiliki berbagai spesialisasi, mulai dari kimia industri, permesinan, otomasi industri, hingga mekatronika, yang disesuaikan dengan kebutuhan sektor manufaktur di berbagai daerah.
Agus juga mengingatkan para lulusan agar tidak hanya mengandalkan kompetensi teknis, tetapi juga menjunjung tinggi integritas dan profesionalisme saat memasuki dunia kerja.
"Keunggulan kompetensi harus dibarengi dengan kejujuran dan integritas. Menjaga integritas berarti menjaga mutu produk Indonesia, melindungi konsumen, sekaligus memperkuat daya saing industri nasional di pasar global," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kementerian Perindustrian Doddy Rahadi mengatakan kualitas lulusan sekolah vokasi Kemenperin semakin diakui dunia industri.
Hingga Juli 2026, sebanyak 1.483 lulusan atau sekitar 63,7 persen dari total 2.369 lulusan telah terserap bekerja di berbagai perusahaan industri.
"Bagi lulusan yang masih dalam proses rekrutmen, BPSDMI bersama sekolah akan memberikan pendampingan selama tiga bulan untuk membantu pencarian kerja. Jika dalam enam bulan belum terserap, mereka akan mengikuti program peningkatan kompetensi maupun pemagangan agar lebih cepat memasuki dunia industri," kata Doddy.
Menurut Doddy, tingginya kualitas pendidikan vokasi Kemenperin juga tercermin dari meningkatnya minat masyarakat. Pada tahun ajaran 2026, rasio pendaftar terhadap daya tampung mencapai 1 banding 12,2, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 1 banding 10,7. Capaian tersebut, kata dia, menjadi dorongan bagi Kemenperin untuk terus memperkuat kualitas pendidikan vokasi guna mendukung target Indonesia menjadi pusat manufaktur dunia pada 2045.
Sumber: https://ekonomi.republika.co.id



