Produsen baja lapis, PT Tata Metal Lestari menangkap peluang untuk memperluas pangsa pasarnya ke Australia seiring dengan adanya kerja sama IA-CEPA.

Head of Government & Public Relations PT Tata Metal Lestari, Maharany Putri menjelaskan, IA-CEPA berdampak signifikan pada industri baja tanah air dan Australia dengan meningkatkan peluang perdagangan barang dan jasa, investasi dan kerja sama ekonomi kedua negara.

Menurutnya, dengan dibukanya akses bea masuk dari 15% menjadi 0% untuk Hot Rolled Coil (HRC) dan Cold Rolled Coil (CRC) sebanyak 250.000 ton pada tahun pertama dan meningkat 5% setiap tahunnya, maka daya saing harga akan produk akhir di kedua negara bahkan di negara ketiga akan tercipta.

"Perjanjian ini terbukti mampu meningkatkan akses pasar dengan mengurangi hambatan dan biaya bagi pelaku usaha yang melakukan ekspor ke Australia. Di sisi lain perjanjian ini juga membuka potensi sumber daya bagi industri baja hilir Indonesia dengan menunjukkan efisiensi biaya dan keadilan harga yang lebih baik.

Produk akhirnya juga bisa dikirim ke negara ketiga," kata Maharany dalam keterangan resminya, Rabu (17/7/2024).

Adapun, pada Kamis (11/7/2024) telah Rapat Koordinasi dan Pertemuan Teknis (Rakornis) Perwakilan Perdagangan (Perwadag) di Luar Negeri, di Grand Hyatt Melbourne, Australia yang dibuka langsung oleh Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan.

Rakornis Perwadag Luar Luar Negeri Tahun 2024 ini digelar di Melbourne, Australia pada 10 – 12 Juli 2024. Acara tersebut dihadiri oleh seluruh perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri yang berjumlah 120 orang termasuk Duta Besar WTO di Jenewa, Kepala KDEI di Taipei, para Atase Perdagangan, Konsul Perdagangan di Hong Kong dan para Kepala ITPC.

Dalam kesempatan tersebut, PT Tata Metal Lestari turut terlibat dalam mini expo yang diadakan dalam rangka Rakornis Perwadag 2024.

"Dengan adanya Rakornis Perwadag 2024 dan kunjungan ke mitra strategis PT Tata Metal Lestari ini, dapat menjadi bukti kehebatan kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha Indonesia yang bertujuan untuk mendorong peningkatan kinerja ekspor nonmigas Indonesia, termasuk peningkatan ekspor produk baja Indonesia ke pasar global," jelasnya.

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com