Industri manufaktur Indonesia tengah menghadapi masa yang penuh tantangan. Salah satu indikator yang menggambarkan kesulitan ini adalah Purchasing Managers' Index (PMI) yang terus terkontraksi selama lima bulan berturut-turut.
PMI adalah sebuah indikator ekonomi yang mengukur aktivitas sektor manufaktur berdasarkan survei terhadap para manajer pembelian di perusahaan manufaktur.
PMI Manufaktur Indonesia yang tercatat pada bulan November 2024 berada di angka 49,6, meskipun ada sedikit peningkatan dari bulan sebelumnya yang berada di angka 49,2.
Meskipun PMI Manufaktur Indonesia menunjukkan sedikit perbaikan, kenyataannya sektor manufaktur Indonesia masih berada dalam tekanan.
Apa yang bisa dipelajari dari situasi ini, dan bagaimana industri manufaktur dapat mengambil langkah strategis untuk menghadapinya?
Proyeksi seputar kondisi ekonomi Indonesia sebenarnya tidak sepenuhnya baik-baik saja. Contohnya sektor manufaktur yang padat karya sedang menghadapi tekanan berat yang berimbas pada peningkatan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Sepanjang semester I-2024 saja, tercatat 32.064 pekerja dirumahkan, naik 21,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sektor manufaktur yang paling parah mengalami PHK massal yakni industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Dalam dua tahun terakhir sudah sebanyak 30 pabrik tekstil yang tutup.
Penutupan pabrik tersebut menyebabkan lebih dari 11 ribu orang kehilangan pekerjaannya. Pelemahan ini dipastikan meluas ke sektor lainnya seperti petrokimia yang berimbas pada penurunan permintaan bahan baku aromatik untuk industri tekstil.
Menurut Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas), melemahnya industri tekstil pasti akan berdampak pada kinerja industri petrokimia.
S&P Global Market Intelligence menilai, peningkatan Indeks Manajer Pembelian atau Purchasing Manager’s Index (PMI) Indonesia yang tercatat 49,6 pada November 2024 mencerminkan adanya ekspansi produksi untuk pertama kalinya dalam lima bulan terakhir.
Pertumbuhan ini terjadi meskipun pesanan baru mengalami penurunan serta perusahaan mencatat permintaan barang yang masih lemah.
"Data survei bulan November menunjukkan hasil yang beragam saat menilai kesehatan sektor manufaktur Indonesia. Di satu sisi, peningkatan output menjadi kabar baik, karena perusahaan meningkatkan produksi untuk membangun inventaris dan menyelesaikan pekerjaan sebelum terjadi peningkatan penjualan dan permintaan pada tahun depan,” kata Economics Director S&P Global Market Inttigence Paul Smith dalam keterangannya, di Jakarta, Senin.
Meskipun demikian, kenaikan indeks menjadi 49,6 pada bulan November, dari 49,2 pada Oktober, mengindikasikan kondisi operasional yang sedikit melambat pada periode penurunan saat ini.
Harus diakui bahwa standardisasi memiliki peran yang strategis bagi sektor industri manufaktur nasional. Hal ini tidak hanya memberikan perlindungan terhadap konsumen dan lingkungan, tetapi juga standardisasi dapat meningkatkan daya saing sektor industri yang berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi nasional.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengungkapkan, “peran strategis standardisasi ini telah meningkatkan awareness negara-negara anggota WTO (World Trade Organization) untuk menerapkan standar produk dan jasa di negaranya.”
Lebih lanjut, menurut Faisol, dengan banyaknya jumlah standar yang diterapkan oleh negara-negara di dunia, akan menyebabkan kesulitan akses pasar bagi produk-produk Indonesia. “Kita ketahui bahwa WTO sudah menjadi pintu untuk transaksi atau lalu lintas perdagangan global, dan semua diatur sedemikian rupa, sehingga barrier yang dahulu menjadi cara pemerintah untuk bisa membatasi peredaran barang dari negara lain, semakin lama menghilang. Oleh karena itu, standar nasional berperan penting di sini,” ungkap Faisol.
Sebesar 75 persen produk industri manufaktur dalam negeri dipasarkan di dalam negeri. Dengan perbandingan orientasi pasar domestik dengan pasar ekspor sebesar 75:25, Tim Analis Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Kementerian Perindustrian menyimpulkan bahwa kinerja industri manufaktur, yang secara umum masih menunjukkan ekspansi di tengah ketidakstabilan kondisi global, sangat dipengaruhi oleh kondisi kestabilan ekonomi dan daya beli di dalam negeri.
Indeks Kepercayaan Industri bulan November 2024 mencapai 52,95 (ekspansi), meningkat 0,20 poin dibandingkan dengan bulan Oktober 2024 atau meningkat 0,52 poin dibandingkan dengan November tahun lalu. “Meningkatnya IKI bulan Oktober ini ditopang oleh ekspansi 21 subsektor dengan kontribusi terhadap PDB Industri Manufaktur Nonmigas Triwulan II 2024 sebesar 99,3%,” ujar Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arif dalam keterangan tertulis, Kamis (28/11).
Industri tekstil dan pakaian jadi pada kuartal III 2024 mencatatkan pertumbuhan 7,43%. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan pertumbuhan ini diyakini bisa lebih besar jika didukung dengan kebijakan yang strategis dan probisnis, terutama terkait pengendalian impor.
Agus menjelaskan Kementerian Perindustrian terus berperan aktif dalam menyediakan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dan berdaya saing untuk memenuhi kebutuhan industri tekstil dan produk tekstil (TPT).
Apalagi, industri TPT nasional merupakan salah satu sektor yang mendapatkan prioritas pengembangan karena sebagai sektor padat karya dan berorientasi ekspor, sehingga memberikan kontribusi signfikan terhadap perekonomian Indonesia.
Page 24 of 137