Tindakan Adalah Kekuatan Nyata

Dalam keseharian, banyak orang yang sering kali mengeluhkan diri dan keadaannya. Saat krisis mendera, negara bisa saja disalahkan. Saat merugi, keadaan dicaci maki. Saat jatuh, orang lain dijadikan kambing hitam. Banyak orang yang menjadikan setiap waktunya diisi dengan bersembunyi pada berbagai alasan yang dibuatnya. Dan, inilah sebenarnya yang justru akan menenggelamkan dirinya pada kubangan derita yang—mungkin—tak akan ada ujungnya. Mengapa? Sebab, kebiasaan mencari-cari alasan, kebiasaannya menyalahkan, kebiasaan mencari kambing hitam hanyalah akan menjadi kata-kata tanpa tindakan yang berujung pada kenestapaan.

Sayangnya, ada yang masih saja terus bersembunyi dengan pola sikap seperti itu. Padahal—seperti yang sering saya katakan dalam berbagai kesempatan—“Orang sukses selalu kelebihan satu cara, orang gagal selalu kelebihan satu alasan”, maka orang-orang dengan mentalitas seperti ini hanya akan jadi beban bagi kehidupannya sendiri. Maka seharusnya, jika sukses ingin dalam genggaman tangan, berusaha terus-menerus adalah kuncinya.

Ada pepatah bijak yang menyatakan, adanya tindakan akan menjadi kekuatan nyata yang mendorong kekuatan di sekitar kita untuk bergerak membantu kita.

Tanpa usaha apa-apa, doa dan harapan akan sia-sia. Jika kita bangun dalam kondisi loyo, tidak semangat, lesu, tak berdaya, malas, tidak disiplin, namun kita terus berharap impian kita jadi nyata, apakah itu akan terwujud? Sebaliknya, jika kita mau berusaha, rajin, bekerja keras, berupaya terus-menerus, ditambah dengan doa yang penuh keikhlasan, maka Sang Mahakuasa pun akan “menurunkan” kekuatan-Nya dalam wujud berbagai hal—baik apa yang kita sebut sebagai keberuntungan, kemudahan, hingga berbagai kebaikan lainnya yang tak kita sangka-sangka.

Banyak orang sukses menyebuat soal “Law of Attraction”. Yakni, saat kita berpikir tentang sukses yang kita damba, saat kita menghendaki sesuatu dan meyakininya dengan sangat kuat, kemudian kita bertindak nyata untuk mewujudkannya, maka alam—sebagai representasi kekuatan Sang Maha Pencipta—akan menarik banyak hal yang akan membantu mewujudkan impian kita menjadi nyata.

Ada sebuah kisah menarik tentang dua pemuda yang tumbuh dengan kondisi badan yang berbeda. Satunya tumbuh sebagai pemuda dengan badan tegap, tinggi, dan atletis. Sementara, satunya tumbuh kerempeng, dengan badan pendek dan lemah. Kondisi itu menyebabkan si pemuda tegap sombong dan cenderung malas karena merasa ia pasti akan dengan mudah mendapat pekerjaan dan makanan. Sebab saat lapar, dengan gampang, ia bisa memetik buah di pohon. Jika butuh uang, ia tinggal ke pelabuhan di dekat kampung mereka untuk membantu menurunkan muatan dan mendapat upah untuk makan.

Sementara itu, si pemuda lemah merasa dirinya penuh kekurangan. Karena itu, ia merasa harus belajar keras untuk menggantikan kekurangan yang ada pada otot dan tubuhnya. Pemuda ini belajar apa saja. Ia pun mau melakukan pekerjaan apa pun sepanjang ia mampu, untuk mendapat upah untuk makan. Hingga, suatu hari, karena tak bisa diandalkan tenaganya, ia nyaris tak bisa mendapatkan apa pun untuk makannya. Beruntung, karena ada yang kasihan padanya, ia mendapatkan beberapa sisa buah jeruk yang akan diangkut ke kapal. Pemuda itu pun lantas mencoba membuat minuman sari jeruk dari pemberian yang didapatnya.

Saat itu, ada awak kapal yang merasa kehausan dan meminta sari jeruk yang dibuatnya. Melihat jeruknya ternyata dimininati si awak kapal, jeruk lain yang tadinya hendak disisakan untuk esok hari, langsung dibuatnya menjadi sari jeruk lain. Dan, ia pun menjual sari jeruk itu kepada awak kapal lain. Uang hasil penjualan pun disimpan untuk belanja jeruk yang lebih segar. Begitu seterusnya, hingga ia pun pelan tapi pasti bisa membuat usahanya sendiri. Dan, dengan ilmu penjualan yang sering dibacanya, usaha itu pun akhirnya terus berkembang. Bahkan, usaha itu makin besar tiap hari dengan aneka macam sari buah lain yang dihasilkannya. Hingga, suatu saat, pemuda tegap yang dulu tumbuh bersamanya, kemudian bekerja padanya sebagai buruh angkut buah di pabrik sari buahnya.

The Cup of Wisdom

Dalam kisah itu, kita diingatkan, bahwa Tuhan telah menjadikan kita dengan kondisi masing-masing bukan dengan tanpa maksud. Sayangnya, si pemuda tegap “menyia-nyiakan” kelebihan yang dipunyainya dengan bermalas-malasan. Sedangkan, si pemuda lemah, berusaha mencari jalan untuk terus hidup dan akhirnya menemukan “nasib” yang baik setelah mendapat solusi di tengah kekurangannya.

Begitulah gambaran kehidupan nyata yang sering kali kita alami. Hanya mereka yang mau berusaha dan tidak mencari-cari alasan dalam berbagai kondisi yang dialaminya, yang akan maju dan mampu mencapai sukses yang didamba.

Untuk itu, mari kita terus melakukan tindakan-tindakan nyata dalam setiap aspek tugas dan tanggung jawab yang kita emban dengan sebaik-baiknya, sehingga pintu-pintu sukses pun bisa terbuka untuk kita semua.

Salam sukses, luar biasa!!!

Sumber: http://www.andriewongso.com