Konsep “Change or Die”, Ada Caranya

Akan dibawa ke mana arah perubahan kita? Meski sudah ditegaskan, banyak tantangan yang harus dihadapi, ketidakpercayaan diri, pesimistis, bahkan relationshipyang tidak baik bisa menggagalkan semuanya. Apa yang harus dilakukan?

Sering kali dalam keadaan terdesak, bisa tumbuh kreativitas yang tak terduga atau keinginan kuat untuk berubah. Misalnya, seseorang yang divonis terancam jiwanya karena badannya kegemukan, kelebihan kolesterol, dan memiliki gangguan jantung, akan mendapat dorongan luar biasa untuk hidup lebih sehat, ketat menjaga makanan, rajin berolah raga, dan sebagainya. Ketakutan itu membawa disiplin yang luar biasa untuk mengubah gaya hidup.

Di kehidupan lain, seseorang yang di-PHK karena perusahaan tempatnya bekerja bangkrut, akan menghadapi situasi teramat sulit. Jika tak bekerja lagi, keluarga pasti melarat. Padahal pekerjaan baru tak juga bisa didapatkan. Situasi ini memaksanya untuk melihat potensi dalam dirinya yang mungkin bisa dikembangkan.

Misalnya, dengan cara memulai bisnis kecil-kecilan. Meski hasil awalnya tak seberapa, karena ditekuni dengan sepenuh hati dan bekerja keras, plus ada ancaman bahwa jika usaha ini tak berhasil keluarganya tak bisa makan, lama-kelamaan bisnisnya membesar juga. Tak sedikit yang bisa memiliki penghasilan puluhan kali lipat dari gajinya semula. Pola seperti inilah yang telah melahirkan pengusaha-pengusaha tangguh baik di dalam negeri maupun di dunia.

Tentu saja kondisi change or die itu tak mudah dilakukan. Banyak yang gagal di tengah jalan karena kurang taktis menjalaninya. Tetapi jika tahu caranya, mau belajar dari mereka yang sudah sukses, keberhasilan serupa, bahkan lebih baik lagi, bisa mereka dapatkan.

Seperti apa langkah-langkah itu? Berikut ini sejumlah tipsnya.

1. Ambil tanggung jawab

Ketika kita dihadapkan pada situasi sulit, tak perlu menganggap diri kita pada posisi lemah dan berharap mendapat pertolongan orang. Kita bertanggungjawab terhadap kehidupan kita. Sukses-gagalnya kita hanya ditentukan oleh diri kita sendiri. Kitalah yang paling tahu apa sebenarnya potensi terbesar kita. Orang lain hanyalah membantu.

2. Tak perlu berpikir tak punya waktu

Gagal di tengah jalan lalu mengubah arah sering berhadapan dengan pertimbangan mendasar: harus memulai dari nol. Ketika hal ini harus dilakukan, lupakan anggapan akan buang-buang waktu. Jika kita serius menjalaninya, waktu yang kita ambil akan sangat berharga.  Seseorang yang sudah tua renta pun bisa memulai sesuatu yang baru yang sukses. Contoh nyatanya adalah Kolonel Harldand Sanders yang memulai berbisnis di saat ia sudah pensiun. Karena tekun, pada usia 65 tahun ia bisa meraih sukses luar biasa. Dari tangannyalah lahir Kentucky Fried Chicken (KFC).

3. Sisihkan yang tak bisa diubah

Ketika semangat untuk berubah sudah ditancapkan, jangan pernah surut. Godaan biasanya terjadi saat berhadapan dengan sesuatu yang sulit diajak berubah. Jika kita mengelola satu perusahaan atau divisi, saat keinginan untuk berubah sudah diputuskan, sementara ada sejumlah pihak yang tidak bisa diajak berubah, maka mau tak mau harus ditinggalkan. Jangan berkutat memikirkannya terus-menerus karena hal itu akan memakan waktu dan momen perubahan kita akan lenyap.

4. Hilangkan perasaan kita berbeda

Saat memulai bidang baru, dan mempelajari tokoh-tokoh suksesnya, bisa saja kita terjerat dalam pandangan bahwa kita berbeda dibanding mereka. Timbul rasa pesimistis kita bisa mengikuti jejak mereka.

Sebenarnya mereka pun memiliki pandangan yang sama ketika memulainya dulu. Tetapi dengan ketekunannya mereka bisa menggapai yang diinginkannya. Di bidang olahraga kita bisa melihat bagaimana petenis Tiongkok Li Na sukses menjuarai nomor single Grand Slam Prancis terbuka untuk pertama kalinya. Padahal selama ini, tak ada cerita orang Asia bisa juara di nomor single seri Grand Slam yang begitu ketat. Tetapi tekad dan keyakinan yang kuat disertai kerja keras, Li Na bisa menepis anggapan minor orang.

5. Tancapkan visinya

Umumnya visi ini akan lebih jelas jika menyangkut perusahaan atau organisasi. Akan dibawa ke mana organisasi ini dan seperti apa di masa mendatang tergambar di visi dan misinya. Visi juga bisa dibuat untuk perorangan. Akan menjadi apa kita 10 atau 20 tahun ke depan, itu harus jelas tergambar.

Visi ini akan menjadi arahkan langkah kita. Sering kali dengan tidak sadar ketika menghadapi dua pilihan yang mengarah pada dua jalan berbeda, karena visinya sudah jelas, naluri akan membawa pilihan ke arah mana visi pribadi kita ditetapkan.

Bruce Lee di awal-awal tiba di Amerika Serikat punya gambaran atau keinginan akan seperti apa ia 20 tahun ke depan. Seperti itulah visi pribadinya. Dan belakangan terbukti ia sesuai dengan apa yang ditulisnnya.

6. Bangun relationship yang lebih baik

Jangan lupa untuk berubah itu perlu dukungan orang-orang sekitar. Bahkan hampir tak ada orang yang bekerja sendirian. Apalagi jika seseorang itu bekerja di dalam sebuah tim atau organisasi. Tanpa ada hubungan yang baik dengan staf, perubahan yang diinginkan bisa tidak terjadi karena mendapat tentangan dari banyak orang. Jangankan banyak, satu orang saja yang menentang sementara ia punya pengaruh di antara teman-temannya atau kelompoknya, bisa menggagalkan rencana perubahan besar. Dan jika itu terjadi, Change or Die bukannya mengarah ke “Change-nya” melainkan ke “Die”.

Tentu saja kita tak berharap hal itu terjadi. Oleh karena itu, agar rencana berubah tak mengarah ke posisi negatif, mencermati keenam tips di atas akan lebih arif.

Sumber: http://www.andriewongso.com