Filosofi Pohon Bambu

Pernahkah kita memperhatikan, rumpun bambu yang menjulang tinggi saat tertiup angin? Ia meliuk ke sana kemari. Bahkan, di tengah badai sekali pun, bahkan hingga liukannya seperti hendak menumbangkannya, bambu tetap kokoh berdiri. Tak tercerabut dari akarnya. Ia tak seperti banyak pepohonan yang tumbuh besar yang sering kali meski berbatang raksasa, namun saat tertiup angin, ambruk dengan mudahnya.

Hal ini disebut oleh Lao Tzu—seorang guru dan filsuf besar Tiongkok—dalam salah satu pelajaran kehidupannya. Ia menyebut, “Sekali pun bambu meliuk diterpa angin, dia mempunyai pegangan, akar yang kuat menghujam di tanah.”

Bagaimana bambu bisa sekuat itu? Begini penjelasannya. Bambu saat pertama kali ditanam, di tahun pertama, di saat kita sibuk dan bersemangat menyiraminya agar tumbuh subur, ia seolah-olah diam saja. Bahkan, tak jarang, ilalang yang dibiarkan, malah tumbuh jauh lebih lebat dan suburnya.

Tahun berlalu. Cobalah terus memupuk dan menyiramnya. Bambu tetap seperti tak tumbuh. Seolah, tak ada sesuatu pun yang terjadi pada bambu tersebut. Malah, tumbuhan lain yang ada di sekelilingnya, telah tumbuh dengan pesatnya.

Menginjak tahun ketiga, dengan kesabaran yang terus kita berikan, yakni dengan terus merawat dan menyiraminya, bambu seolah ia tak mau tumbuh sehingga mulai memunculkan rasa frustasi bagi yang menanamnya.

Tahun keempat, pepohonan yang ada di sekeliling bambu telah makin tumbuh lebat dan bahkan ada yang sudah menjulang tinggi. Sementara, bambu hanya tetap “diam” dan seperti tak hendak tumbuh. Ia mungkin telah tumbuh, namun setengah atau semeter saja. Seolah tak mau tumbuh layaknya pohon lainnya.

Namun, di saat bambu menginjak tahun kelima, bagi yang tetap sabar merawatnya, akan segera menikmati hasilnya. Bambu yang seolah diam, ternyata tumbuh tinggi dengan cepat dan kuat, hanya dalam hitungan minggu.

Apa yang terjadi? Dalam empat tahun pertama, bambu ternyata “tumbuh” ke dalam tanah. Ia membentuk akar yang kuat sehingga dalam empat tahun, akarnya yang berserabut menancap kuat ke dalam tanah. Ia mengambil saripati terbaik dalam tanah sehingga mampu tumbuh menjadi bambu yang kokoh saat diterpa angin.

Dengan masa tumbuh yang sangat lama itulah, bambu menjadi sangat kaya manfaat. Batangnya bisa dijadikan tulang rumah, dari tiang, dinding, hingga berbagai aksesoris yang menghiasi rumah. Mebel, pagar, bahkan lantai rumah pun bisa dibuat dari bambu yang kokoh. Tak hanya itu, dengan cara yang benar, bambu akan jadi dasar bangunan yang tahan rayap dan kokoh hingga bertahun-tahun lamanya.

The Cup of Wisdom

Seperti juga kehidupan, ada proses panjang menuju terwujudnya impian. Sebab, tak ada sesuatu yang terbangun secara instan. Kalau pun ada, pastinya ia tak kan sekuat dan sekokoh kesuksesan yang didapat dengan peluh keringat dan “darah perjuangan”.

Meraih impian,  didapat bukan dalam waktu setahun dua tahun. Namun, tak jarang bertahun-tahun lamanya. Hingga, tak heran, banyak pula yang kemudian “bertumbangan” sebelum sampai di puncak sukses yang didambakan. Padahal, dengan sekali lagi, sekali melangkah, sekali menahan rasa sakit, sekali lagi terjatuh, barangkali, kita akan segera menemukan sukses yang dicari.

“Kesabaran”dari bambu inilah yang seharusnya bisa kita pelajari dan hayati untuk dipraktikkan dalam kehidupan, juga bisnis. Meski belum tampak memberikan hasil yang diharapkan, kita harus konsisten untuk memperjuangkan apa yang pantas kita raih. Konsistensi dan integritas terhadap bidang yang kita jalani, serta apa yang kita perjuangkan inilah yang akan menjadi “akar” kuat sehingga saat sukses didapat, kita tidak mudah digoyang dan digoncang badai kehidupan.

Maka, apapun yang kita perjuangkan, jangan pernah menyerah. Sebaliknya, yakin dan sadar dengan apa yang diperjuangkan, serta terus fokus. Maka edikit demi sedikit, “akar” yang terbentuk akan menguatkan sukses kita.

Mari, syukuri apa pun hasil yang telah kita capai saat ini serta terus berjuang untuk mencapai hasil yang lebih baik lagi. Sehingga, kita pun akan tumbuh pesat dan kokoh layaknya sang bambu.

Salam sukses, luar biasa!

Sumber: http://www.andriewongso.com