“Obat yang Pahit adalah Obat yang Baik”

Kalau boleh memilih, pasti pengusaha menginginkan perusahaan yang dikelolanya selalu untung, selalu meraih hasil sesuai harapan, selalu mendapatkan keberhasilan. Akan tetapi, kenyataannya, hampir semua usaha—bahkan termasuk yang kelihatannya mulus-mulus saja—pasti pernah mengalami berbagai ujian dan cobaan. Bangkrut, ditipu, gangguan kondisi ekonomi negara, hingga aneka macam pengalaman buruk pasti pernah dialami.

Saya kira, dari sekian banyak kejadian kurang menyenangkan, pasti banyak pembelajaran yang bisa dipetik. Sehingga, akhirnya banyak hal yang justru jadi “pegangan” sehingga ke depan mampu meraih berbagai keunggulan. Tak jarang, malah ada perusahaan yang—konon—membiarkan pegawainya berbuat salah, agar belajar bertanggung jawab. Ujungnya, selain lebih berani mengambil risiko, banyak peluang yang bisa dikerjakan tanpa rasa takut, sehingga perusahaan berkembang luar biasa.

Saya ingin membahas satu pemahaman yang luar biasa dari Negeri Tiongkok, yang ada dalam judul artikel ini. Yaitu 良 藥 苦 口 Liáng yào kǔ kǒu. Kalau ditelaah lebih jauh, memang kesalahan sangat pahit dan menyakitkan, apalagi sampai mengarah pada kebangkrutan. Namun bagi yang sadar “hukum perubahan”, mereka justru akan bersyukur seraya belajar, hingga dari pelajaran tersebut mereka akan meraih kesuksesan.

Yakinlah, di setiap kesuksesan, pasti ada pembelajaran soal kegagalan. Apalagi kalau kita menyebut diri sebagai pengusaha. Tentu, bukan pula lantas ngawur dengan main tabrak sana-sini tanpa perhitungan. Namun, ada kalanya, memang yang namanya risiko itu harus berani diambil.

Ini sejalan pula dengan filosofi pendekar Musashi. Ia menyebut, dalam setiap pertarungan, dirinya selalu bersiap untuk kalah. Dengan pola pikir tersebut, ia justru mampu bertarung tanpa beban, sehingga selalu meraih kemenangan.

Dengan pendekatan tersebut, jangan heran jika banyak perusahaan besar di dunia sebenarnya sudah menghabiskan jutaan dolar untuk berbuat salah. Mereka menelan dana yang sangat besar untuk “belajar dari rasa pahit”. Seorang bos IBM, Tom Watson misalnya. Suatu kali ia memanggil salah satu manajer lininya yang ketahuan berbuat salah. Manajer itu konon mengambil keputusan yang keliru sehingga merugikan IBM hingga jutaan dolar.

Sang manajer mengaku salah dan siap jika dipecat dari jabatannya. Tetapi yang terjadi, Watson malah mengatakan, dirinya sedang “membiarkan” sang manajer “sekolah” dengan biaya jutaan dolar yang hilang itu. Sang manajer pun kaget. Memang, tak disebutkan bagaimana akhirnya kinerja sang manajer. Namun yang jelas, hingga kini IBM tetap berhasil menjadi salah satu perusahaan komputer terbesar di dunia.

Saya sendiri pernah bertemu dengan pengusaha dengan pola pikir yang nyaris senada. Mereka membiarkan anak buahnya untuk berkreasi, tanpa takut salah. Hasilnya, perusahaan yang didirikan maju pesat. Banyak inovasi baru yang kadang di luar pikiran sebelumnya. Muncul inovasi yang membuat perusahaan tersebut berkembang luar biasa, bahkan siap berkiprah hingga mancanegara.

Tentunya, harus diakui, kesalahan akan menimbulkan dampak kurang menyenangkan. Apalagi, kalau yang dipertaruhkan adalah nilai uang yang sangat besar. Namun, ada baiknya, kita mulai lebih terbuka terhadap munculnya kesalahan-kesalahan. Sebab, kalau karyawan diberi kebebasan yang bertanggung jawab—misalnya dengan batas yang kita tentukan—akan banyak pikiran-pikiran kreatif yang sering kali justru memberi banyak solusi untuk memajukan perusahaan.

The Cup of Wisdom

Sekali lagi, pepatah “obat pahit, obat baik” ini jika dimengerti secara benar, akan banyak memberikan kita dan karyawan, banyak kebebasan untuk meraih keberhasilan. Yang harus diingat, semua pasti mengalami proses pematangan dalam level masing-masing. Maka, daripada merasakan “pahit” karena keadaan yang terjadi tiba-tiba, bukankah lebih baik “mempersilakan rasa pahit datang” sehingga kita justru lebih siap dalam setiap keadaan?

Mari, menyiapkan diri untuk menghadapi berbagai situasi. Jangan takut akan risiko. Karena, di balik itu semua, ada banyak rezeki yang menanti.

Selamat berjuang!

Sumber: http://www.andriewongso.com