Nasib Baik atau Nasib Jelek, Tergantung Kita Menyikapinya

Tak ada kebaikan dan kejelekan yang mutlak. Bagaimana kita menyikapinya akan sangat menentukan keberhasilan.

Saya selalu berprinsip, apa pun kondisi yang terjadi, selalu saja ada hal-hal yang bisa dimaksimalkan. Setiap kejadian, sebenarnya pasti mengandung banyak makna. Mari kita simak kisah berikut untuk lebih mendalami pengertian tersebut!

Pada suatu ketika, ada seorang petani yang kehilangan kuda yang sering membantunya di ladang. Karena itu, tetangganya bersimpati dan mengatakan padanya untuk bersabar. Namun ternyata, sang petani malah menjawab dengan santai, “Keberuntungan jelek, keberuntungan baik, siapa tahu?”

Seminggu kemudian, tanpa disangka, kuda itu kembali. Uniknya, kuda itu kembali membawa kuda lain bersamanya. Melihat itu, tetangganya berkata, bahwa si petani adalah orang yang sangat beruntung. Menanggapi itu, sang petani kembali menjawab, “Keberuntungan baik, keberuntungan jelek, siapa tahu?”

Karena kuda yang baru datang itu masih liar, anak si petani mencoba untuk menjinakkannya. Malang, ia terjatuh dari kuda itu dan tangannya patah. Setiap orang mengasihininya dan menganggap ia sedang sial. Namun, sang petani kembali berkata, “Keberuntungan jelek, keberuntungan baik, siapa yang tahu?”

Beberapa minggu kemudian, tak dinyana tentara kerajaan datang. Mereka mencari pemuda desa untuk diajak berperang menghadapi musuh. Mereka harus ikut dan harus rela mati untuk negara. Semua pemuda desa akhirnya harus berpisah dengan keluarganya masing-masing, kecuali si pemuda yang patah tangannya karena terjatuh dari kuda.

Begitulah, kisah tadi mengajarkan, bahwa tak ada kebaikan dan kejelekan yang mutlak. Bahkan, ketika ada sebuah hal yang dirasa kebaikan, bisa jadi malah membawa keburukan. Sebaliknya, yang disangka buruk dan membawa nasib sial, malah mendatangkan kebaikan.

Dalam bisnis pun berlaku hal yang nyaris sama. Kita ingat kasus kekalahan Samsung yang dituntut oleh Apple karena menjual produk yang dianggap sama persis dengan iPhone milik Apple. Akhirnya, di pengadilan, Samsung dianggap bersalah dan tidak diperkenankan lagi menjual dan memproduksi ponsel pintar yang sejenis. Akibatnya, produk yang telanjur diproduksi—kala itu Galaxy Spica II—tak bisa lagi dijual bebas.

Banyak orang pasti menganggap hal itu sebagai sebuah kesialan. Sebab, kerugian yang diderita Samsung pastilah tak sedikit. Namun, di balik peristiwa itu, Samsung mencoba untuk terus berinovasi. Maka, saat produk larisnya tak lagi dijual, mereka membuat ponsel pintar lain dengan bentuk yang lebih lebar, namun kemampuannya lebih tinggi dan bahkan nyaris setara tablet atau komputer. Produk yang dinamai Galaxy Note itu pun menjadi salah satu produk laris Samsung karena kemampuannya yang sangat hebat. Mereka pun berani mengklaim, itu adalah salah satu produk terbaik mereka.

Inilah gambaran, bahwa "nasib yang baik" atau "nasib yang jelek" ¸bisa terjadi pada siapa saja. Semua tergantung pada bagaimana kita menyikapinya. Mari, apa pun usaha yang kita jalani, bisnis apa pun yang kita lakoni, selalu optimis dan landasi dengan kekayaan mental, sehingga, setiap keberuntungan yang datang, benar-benar akan jadi kebaikan.

Salam sukses, luar biasa!!!

SUmber: http://www.andriewongso.com