Ketegaran dan Kesabaran

Alkisah, suatu hari, Putri datang kepada ayahnya yang sedang membaca koran di teras belakang rumah.

"Ayah," sapa Putri dengan kepala tertunduk dan nada suara yang murung.

Sambil menurunkan koran yang sedang dibacanya, sang ayah memandang putrinya yang beranjak remaja itu. "Ada apa, Nak?"

"Ayah. Putri merasa capek. Putri sudah belajar mati-matian di sekolah, untuk mendapat nilai bagus. Tapi teman sekelasku bisa dapat nilai bagus dengan cara mencontek. Itu kan tidak adil namanya. Putri juga capek karena harus membantu ibu membersihkan rumah hingga waktu belajarku jadi kurang, sedangkan temanku pada punya pembantu. Kenapa kita tidak punya pembantu, Ayah?"

Read more...

Tanamkan Rasa Percaya Diri!

Opini publik sering kali membuat kita mudah terpengaruh. Apa yang dikatakan oleh banyak orang, seolah itu yang akan jadi kenyataan. Karena itu, pengaruh lingkungan sangat bisa membentuk pribadi seseorang.

Namun, ada kalanya, seseorang sudah “terbentuk” dari sono-nya. Ada orang yang sangat kuat kepribadiannya, sehingga lingkungan seperti apa pun tak akan bisa menggoyahkan semangatnya. Sebaliknya, ada pula yang berada di lingkungan yang sangat mendukung, namun karena tidak percaya diri, melakukan apa pun jadi terasa susah. Karena itu, saya sering mengungkapkan, “1000 orang berkata tidak bisa, tidak berarti apa-apa. Tapi kalau kita yang mengatakan tidak bisa, itu baru bencana.”

Inilah pentingnya kita selalu menanamkan rasa percaya diri. Karena sejatinya, Sang Mahapencipta selalu “menitipkan” berbagai macam potensi dalam setiap insan. Namun, “titipan” itu hanya akan muncul—disadari atau tidak—hanya dengan perjuangan. Kadang, muncul ketika kita dilanda masa-masa penuh ujian, sering pula datang saat-saat penuh kesulitan datang. Bahkan, kadang muncul saat di mana kita sendiri merasa hal tersebut seolah tidak mungkin terjadi.

Read more...

Bencana Membawa Hikmah

Alkisah, dalam sebuah kesempatan, seorang perajin karya tradisional mengikuti sebuah ajang pameran. Untuk mengikuti pameran itu, karena harus datang ke kota dari desanya yang cukup jauh, ia harus benar-benar menguras tabungannya. Tapi, semua itu dilakukan dengan keyakinan, bahwa pameran yang biasanya didatangi oleh banyak orang akan membuat produk kerajinannya diborong pembeli.

Selama ini, ia memang hidup dari menjual kerajinan di desanya. Untuk itu, ia hidup pas-pasan karena hanya mengandalkan pembeli yang datang tak pasti. Karena itu, begitu mendengar ada kesempatan ikut pameran di kota, ia nekat. Semua hasil kerajinannya dibawa ke kota dengan harapan akan mengubah nasib setelah ikut pameran.

Sehari dua hari mengikuti pameran, pengunjung hanya datang melihat karyanya. Namun ia terus saja menanamkan keyakinan, bahwa pasti akan ada pengunjung yang membeli produknya. Tetapi, hari berganti, hingga menjelang akhir pameran, produknya tidak laris terjual. Ia pun nyaris putus asa. Sebab, jika dalam pameran itu ia gagal, ia sudah berjuang habis-habisan.

Read more...