Segera Bertindak, Bergerak, dan Berkarya

Dalam diri kita masing-masing, sebenarnya ada DNA sukses yang sudah ditanamkan sebagai bagian dari kesempurnaan adikarya Sang Mahakuasa. Semua tercipta dengan potensi—apa pun itu bentuknya—yang jika digali, dikembangkan, dimaksimalkan, mampu jadi kekuatan luar biasa, sesuai dengan bidang yang digeluti atau ditekuni.

Minimal, seseorang akan bisa memenuhi “tugas” hidupnya, yakni menjadi “puzzle” alias keping pelengkap peran yang tak bisa dilakukan orang lain. Seperti seorang yang tak bisa memotong rambutnya sendiri, ia butuh tukang cukur untuk membantunya. Seperti juga layaknya orangtua, yang perlu bantuan guru—baik formal dan nonformal—yang membantu mendidikan anak-anaknya.

Itulah mengapa sejatinya, hanya dengan bergerak, kita sebenarnya sudah memberi arti bagi hidup dan kehidupan di sekeliling kita. Ya, kuncinya terletak pada “gerak” alias “tindakan”! Tentu, bukan sekadar tindakan apa adanya yang tanpa makna. Namun, tindakan yang diharapkan mampu memberi kontribusi bagi diri dan sekeliling kita.

Read more...

Menabur yang Baik, Menuai yang Positif

Alkisah, seorang mahasiswa sedang berjuang membayar biaya kuliahnya. Dia seorang yatim piatu, dan kebingungan mencari cara untuk melunasi biaya tersebut.

Suatu hari, muncul sebuah ide cemerlang di benaknya. Pemuda itu, bersama seorang temannya memutuskan untuk mengadakan konser musik di kampus dengan tujuan menggalang dana demi kuliah mereka. Mereka berhasil mengontak pianis terkenal bernama Ignacy J. Paderewski. Manajernya meminta pembayaran sebesar 2.000 dolar untuk pertunjukan piano yang akan ditampilkan. Mereka pun berhasil mencapai kata sepakat.

Kedua mahasiswa itu pun mulai bekerja agar konser musik ini berjalan sukses. Hari yang ditunggu-tunggu tiba juga. Paderewski tampil memukau di Stanford University. Sayangnya, pertunjukan itu ternyata tidak begitu laris. Kedua mahasiswa itu hanya berhasil mendapatkan pemasukan 1.600 dolar.

Read more...

Sang Pendaki

Alkisah pada hari Jumat, 10 Mei 1996, ada 31 orang pendaki dari lima kelompok ekspedisi berhasil mencapai puncak Gunung Everest, puncak tertinggi diantara segala gunung. Tiba-tiba, sebuah badai ganas menerpa dan menghempaskan para pendaki tersebut.

Di antara mereka ada seorang pendaki bernama Beck Weathers, yang jatuh pingsan di salju. Malam harinya, sekelompok regu penyelamat berhasil menemukan Weathers, tapi regu itu memastikan bahwa Weathers tidak mungkin bisa diselamatkan. Tempatnya terlalu gelap, jalannya terlampau berbahaya, dan kalau toh bisa dievakuasi, sepertinya Weathers juga akan tetap meninggal. Maka regu penyelamat pun meninggalkan Weather di tempatnya.

Namun beberapa jam kemudian, jauh di dalam dirinya Weathers merasakan sesuatu yang kemudian menyelamatkannya dari ajal, dan membangkitkan dirinya untuk menghadapi situasi yang sangat buruk. Kepada Newsweek, Weathers mengisahkan, “Saya telentang di es. Rasanya lebih dingin daripada semua yang bisa Anda bayangkan. Sarung tangan kanan saya hilang, dan tangan saya rasanya seperti terbuat dari plastik.”

Read more...