News Headlines

Tiongkok jajaki kemitraan sektor manufaktur unggulan Indonesia

Delegasi China Council for the Promotion of International Trade (CCPIT) Shanghai mengukur kemampuan sektor manufaktur di Indonesia yang potensial untuk dijajaki kerja sama dengan industri asal Negeri Tirai Bambu.

Untuk itu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan keunggulan industri manufaktur nasional kepada delegasi tersebut.

“Mereka melaporkan, sebagian industri di Tiongkok akan hijrah, dari manufacturing ke sektor jasa. Apalagi labor cost mereka sudah cukup tinggi, sehingga mereka melihat ada potensi sebagian pelaku industri Tiongkok akan pindah ke Indonesia,” kata Airlangga lewat keterangannya di Jakarta, Senin.

Delegasi tersebut berencana menyelenggarakan pameran impor di Shanghai, Tiongkok pada tahun 2018 dan sedang mengukur kemampuan sektor manufaktur di Indonesia yang potensial untuk dijajaki kerja sama dengan industri asal Negeri Tirai Bambu.

Airlangga menjelaskan, Indonesia telah menyiapkan kawasan industri yang khusus untuk menampung industri dari Tiongkok. Kawasan tersebut berlokasi di Karawang dengan luas lahan sekitar 200 hekatre.

“Kawasan tersebut akan mendukung beberapa sektor industri seperti otomotif, elektronika, sepatu, tekstil, pakaian, dan petrokimia,” sebutnya.

Airlangga menambahkan, investasi Tiongkok khususnya di sektor otomotif semakin berkembang pesat.

Ada dua pabrik kendaraan asal Tiongkok yang telah beroperasi dengan nilai investasi sebesar Rp16 triliun dan sudah mampu menunjukkan hasil penjualannya cukup baik.

“Indonesia bisa menjadi basis produksi dan ekspor yang potensial, selain memiliki domestic market yang sangat besar. Bahkan, value chain industrinya sudah ada,” ungkapnya.

Berdasarkan catatan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), total investasi Tiongkok ke Indonesia sepanjang tahun lalu menempati posisi kedua terbesar dengan nilai 1,07 miliar dollar AS. Uang tersebut mengalir ke dalam negeri melalui 520 proyek.

Airlangga juga telah menawarkan kawasan industri lainnya, seperti di Tanah Kuning, Kalimantan Utara. Kawasan dengan luas mencapai 10 ribu hektare ini akan dijadikan pusat industri berbasis aluminium.

Kawasan yang dilengkapi pelabuhan internasional ini pun akan dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan sumber Energi Baru Terbarukan (EBT) sebagai modal utama penarik investor.

SUmber: http://www.antaranews.com