Produksi Karet Bisa Salip Thailand

INDONESIA berpotensi menyalip Thailand dan menjadi produsen karet terbesar di dunia. Pasalnya, Indonesia memiliki keunggulan dengan lahan yang lebih luas.

Ketua Umum Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) A Aziz Pane mengemukakan hal itu di Jakarta, Senin (24/6). Menurut Aziz, Thailand sudah tidak bisa menambah luasan perkebunan karet karena lahan tidak tersedia.

Produksi karet nasional tertinggal oleh Thailand karena produktivitas perkebunan karet Indonesia lebih rendah. 'Negeri Gajah Putih' dengan bibit-bibit karet unggulan mampu menghasilkan karet lebih banyak dengan luasan lahan lebih sempit.

Read more...

Industri Hijau Hemat Energi 25 Persen

Penerapan prinsip industri hijau pada perusahaan tekstil, alas kaki, dan gula di Indonesia berhasil menghemat energi 25 persen. Sebaliknya, produktivitas perusahaan naik hingga 17 persen.

"Penerapan prinsip industri hijau juga meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan menurunkan emisi gas rumah kaca," kata Wakil Menteri Perindustrian Alex SW Retraubun dalam acara Indonesia Green Awards 2013 di Jakarta, Selasa (25/6).

Emisi gas rumah kaca di Indonesia pada tahun 2000 sebesar 1,3 juta gigagram C02 ekuivalen. Sebanyak 12,75 persen berasal dari sektor industri. Pada tahun 2009, pemerintah menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca 26 persen bila dilakukan sendiri dan 41 persen bila dilakukan dengan bantuan internasional.

Read more...

Karet Bisa Bebas Pajak

Pemerintah dapat memberikan fasilitas bebas pajak (tax holiday) kepada industri karet sintetis. "Kita bisa buatkan insentif berupa fasilitas bebas pajak (tax holiday) mengingat investasinya sangat besar dan memberi dampak besar bagi ekonomi," kata Direktur Industri Kimia Dasar Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Tony Tanduk di Jakarta, (24/6).

Tony mengatakan, produk karet sintetis dipergunakan dalam pembuatan ban radial kandungannya hanipir 40 persen. Sehingga dengan pertumbuhan sektor otomotif demikian pesat di Indonesia, maka penggunaan ban radial juga semakin meningkat ini yang membuat industri karet sintetis sangat prospektif. 'Apabila pabrik syntetic rubber patungan anak usaha PT Chandra Asri Petrokimia Tbk dengan Compagnie Financiere Groupe Michelin jadi direalisasikan pada awal 2017, maka akan dapat memberi kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Read more...