News Headlines

Kementerian Perindustrian genjot ekspor subsektor IKTA

Kementerian Perindustrian menggenjot beberapa subsektor Industri Kimia Tekstil dan Aneka, di antaranya yakni industri tekstil dan produk tekstil (TPT), industri bahan kimia, industri kulit hingga industri kosmetika.

"Industri TPT memberikan pangsa ekspor dunia sebesar 1,6 persen. Industri TPT merupakan sektor padat karya berorientasi ekspor," kata Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, di Jakarta, Senin.

Pada 2018, Kementerian Perindustrian mematok ekspor TPT sebesar 13,5 miliar dolar Amerika Serikat dan menyerap tenaga kerja sebanyak 2,95 juta orang.

Sedangkan pada 2019, ekspor TPT diharapkan bisa mencapai 15 miliar dolar Amerika Serikat dan menyerap sebanyak 3,11 juta tenaga kerja.

Selain itu, ekspor juga digenjot untuk industri bahan kimia dan barang kimia yang memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar 1,25 persen atau senilai Rp170,41 triliun pada tahun 2017.

Read more...

Ekspor Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Diproyeksi Naik 4,05%

Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor industri kimia, tekstil, dan aneka (IKTA) tumbuh sebesar 4,05% pada tahun ini.

“Untuk 2018, target ekspor IKTA naik jadi US$39,31 miliar atau naik 4,05% dari capaian tahun lalu,” kata Achmad Sigit Dwiwahjono, Dirjen IKTA Kemenperin di Jakarta, Senin (19/2/2018).

Sektor IKTA dinilai memiliki daya saing yang cukup tinggi sehingga mampu berkompetisi di pasar global. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan salah satu sektor dari IKTA yang bisa menembus pasar global adalah industri tekstil dan produk tekstil (TPT).

“Potensi peningkatan ekspor TPT masih sangat terbuka melalui pengoptimalan utilisasi yang ada maupun penambahan investasi baru. Potensi peningkatan ekspor juga semakin terbuka jika produk TPT kita dikenakan tarif yang sama dengan Vietnam dan Bangladesh di Eropa atau Amerika,” katanya.

Read more...

Menperin: ekspor industri pengolahan logam melonjak

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pertumbuhan dan ekspor industri mengalami lonjakan tajam, yang terjadi pada sektor pengolahan logam dan mineral.

Hal ini karena kebijakan hilirisasi industri yang didorong Kementerian Perindustrian dalam upaya meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia.

“Kita punya beberapa klaster industri baja. Sektor ini sebagai mother of industry. Di Cilegon misalnya, kapasitas produksi hari ini mendekati lima juta ton per tahun dan ditargetkan mencapai 10 juta ton pada tahun 2025,” kata Airlangga melalui keterangannya di Jakarta, Rabu.

Selain itu, lanjut Menperin, Indonesia juga memiliki klaster industri baja di Morowali, Sulawesi Tengah.

“Sebelumnya, kita mengekspor yang namanya nickel ore, tetapi saat ini kita sudah memproduksi tiga juta ton nickel pig iron dan 1,5 juta ton produk tengahnya berupa stainless plat,” ungkapnya.

Read more...