Filosofi Pohon Bambu

Pernahkah kita memperhatikan, rumpun bambu yang menjulang tinggi saat tertiup angin? Ia meliuk ke sana kemari. Bahkan, di tengah badai sekali pun, bahkan hingga liukannya seperti hendak menumbangkannya, bambu tetap kokoh berdiri. Tak tercerabut dari akarnya. Ia tak seperti banyak pepohonan yang tumbuh besar yang sering kali meski berbatang raksasa, namun saat tertiup angin, ambruk dengan mudahnya.

Hal ini disebut oleh Lao Tzu—seorang guru dan filsuf besar Tiongkok—dalam salah satu pelajaran kehidupannya. Ia menyebut, “Sekali pun bambu meliuk diterpa angin, dia mempunyai pegangan, akar yang kuat menghujam di tanah.”

Bagaimana bambu bisa sekuat itu? Begini penjelasannya. Bambu saat pertama kali ditanam, di tahun pertama, di saat kita sibuk dan bersemangat menyiraminya agar tumbuh subur, ia seolah-olah diam saja. Bahkan, tak jarang, ilalang yang dibiarkan, malah tumbuh jauh lebih lebat dan suburnya.

Read more...

6 Kerangka Berpikir Akan Informasi

Dalam dunia yang sangat penuh dengan informasi ini, Edward de Bono di banyak tahun yang lalu telah menawarkan sebuah pemikiran tentang bagaimana kita mengelompokkan informasi itu. Ada 6 tipe kelompok informasi yang sederhana tapi mengena.

SEGITIGA: Sebuah TUJUAN, artinya informasi ini memiliki sebuah arah yang jelas yang perlu untuk kita ketahui untuk suatu kebutuhan spesifik. Misalkan, informasi tentang seminar yang penting dimana anda tertarik untuk mengikutinya.

LINGKARAN: Sebuah AKURASI, seperti target kalau kita menembak, sebuah lingkaran menunjukkan kalau informasi ini, yang paling akurat yang dapat kita pakai untuk suatu kebutuhan, seperti sebuah data statistik yang kita cari lama tetapi baru kali ini kita temukan dan ini sangat akurat dan kita butuhkan.

Read more...

Ketegaran dan Kesabaran

Alkisah, suatu hari, Putri datang kepada ayahnya yang sedang membaca koran di teras belakang rumah.

"Ayah," sapa Putri dengan kepala tertunduk dan nada suara yang murung.

Sambil menurunkan koran yang sedang dibacanya, sang ayah memandang putrinya yang beranjak remaja itu. "Ada apa, Nak?"

"Ayah. Putri merasa capek. Putri sudah belajar mati-matian di sekolah, untuk mendapat nilai bagus. Tapi teman sekelasku bisa dapat nilai bagus dengan cara mencontek. Itu kan tidak adil namanya. Putri juga capek karena harus membantu ibu membersihkan rumah hingga waktu belajarku jadi kurang, sedangkan temanku pada punya pembantu. Kenapa kita tidak punya pembantu, Ayah?"

Read more...