Singa Bukan Lagi Raja Hutan

Alkisah, di sebuah hutan, ada seekor kancil yang mengklaim dirinya sebagai raja hutan. Singa yang mendengar hal tersebut menjadi sangat marah. “Berani-beraninya si Kancil menyebut dirinya raja hutan, padahal jelas-jelas akulah sang raja hutan,” kata Singa dalam hati. Maka pergilah si singa mencari kancil untuk membaut perhitungan dengannya.

Saat bertemu Kancil, Singa berkata, “Hei Kancil, berani sekali kamu menyebut dirimu raja hutan. Akulah sang raja hutan.” Kancil berkata, “Hai singa, sekarang ini Anda bukan lagi raja hutan. Kalau tidak percaya, mari kita buktikan.”

Maka pergilah singa dan kancil berdua memasuki hutan. Tak lama mereka bertemu dengan kelinci. Saat kelinci melihat kancil, dia tenang-tenang saja, tetapi saat melihat singa di sebelah kancil, dia langsung lari terbirit-birit. Namun si Kancil yang cerdik berkata pada Singa, “Lihat, Kelinci saja takut padaku. Akulah sang raja Hutan.”

Read more...

Dimulai Dengan Angan Angan

Segala yang terjadi, dimulai dengan khayalan. Segala yang anda capai, dimulai dengan angan-angan di pikiran.

Apa yang anda sekarang angankan, bila kita bicara tentang setahun, dua tahun ke depan? Apakah anda melihat masalah, dan segala sesuatu yang berantakan? Ataukah anda melihat peluang dan keberhasilan?

Tidak ada batas bagi imajinasi. Anda boleh mengkhayalkan apa saja. Khayalan tidak bisa dibatasi realitas fisik, kesulitan keuangan, rasa takut, penolakan dan apa saja yang mengurung anda di “dunia nyata”.

Bayangkan masa depan, dan biarkan diri anda melaju dengannya.

Read more...

Kisah Tentang Sang Panglima yang Ahli Memanah

Suatu ketika, di daratan Tiongkok, hidup seorang panglima perang yang sangat terkenal. Sang Panglima dianggap memiliki kelebihan yang tak dimiliki orang-orang biasa. Yakni, ia memiliki keahlian memanah yang tiada tandingannya.

Suatu hari, sang panglima ingin memperlihatkan keahliannya memanah kepada rakyat di negerinya. Lalu, Sang Panglima memerintahkan prajurit bawahannya agar menyiapkan papan sasaran yang diletakkan cukup jauh, serta 100 buah anak panah untuknya.

Setelah semuanya siap, pada hari yang telah ditentukan, Sang Panglima memasuki lapangan dengan penuh percaya diri, lengkap dengan perangkat memanah di tangannya. Di lapangan tersebut, berbondong rakyat yang ingin menyaksikan kehebatan panglima negerinya pun berkumpul. Mereka penasaran, bagaimana Sang Panglima mampu memiliki kehebatan memanah yang luar biasa.

Read more...