News Headlines

Ekspor Alas Kaki Ditargetkan Tumbuh Jadi Dobel

Ekspor alas kaki ditargetkan tumbuh dua kali lipat dalam 5 tahun ke depan.

Budiarto Tjandra, Ketua Pengembangan Sport Shoes & Hubungan Luar Negeri Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), mengatakan apabila dilihat beberapa tahun ke belakang, ekspor alas kaki tumbuh pesat dalam jangka waktu 8 tahun. Pada 2002, nilai ekspor sepatu mencapai US$1,15 miliar dan tumbuh 118% pada 2010 menjadi US$2,50 miliar.

Selanjutnya, 8 tahun kemudian atau pada tahun lalu, nilai ekspor naik 104% menjadi US$5,11 miliar. Realisasi pada 2018 menjadi pertama kalinya ekspor alas kaki menembus angka US$5 miliar.

“Secara historical, setiap 8 tahun tumbuh dobel. Namun, ke depan kami targetkan dalam 5 tahun bisa dobel, ada akselerasi,” ujarnya dalam Konferensi Pers Indo Leather & Footwear Expo di Jakarta, Kamis (4/4/2019).

Adapun, target pertumbuhan ekspor dua kali lipat tersebut bisa tercapai melalui peluang-peluang yang ada. Budi, sapaan akrabnya, menyebutkan pasar Uni Eropa menjadi peluang peningkatan ekspor karena jumlah penduduk yang besar.

Oleh karena itu, pemerintah diharapkan bisa segera menyelesaikan perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa agar produk alas kaki Indonesia bisa masuk dengan bea masuk yang rendah.

Saat ini, produk alas kaki Indonesia dikenakan bea masuk sebesar 11% oleh pemerintah Uni Eropa. Sementara itu, negara tetangga Vietnam telah memiliki perjanjian dagang dengan Uni Eropa sehingga pertumbuhan ekspor negara tersebut tumbuh dua digit setiap tahun.

“Perang dagang antara Amerika Serikat dan China juga harus diambil untuk menarik investasi pabrik dari China untuk relokasi ke China. Untuk ini diperlukan paket yang menarik berupa tax holiday,” katanya.

Selain itu, pemerintah juga diharapkan memberikan dukungan kepada industri yang telah ada di dalam negeri, di antaranya memberikan insentif pajak, membebaskan upah sektoral, serta mengembangkan industri bahan baku alas kaki.

Adapun, Vietnam saat ini menjadi pesaing utama Indonesia di kawasan Asia Tenggara. Pertumbuhan ekspor negara tersebut lebih tinggi dengan rerata pertumbuhan sejak 1999 hingga 2018 sebesar 15,96% sedangkan Indonesia sebesar 8,47%.

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com