News Headlines

Perjanjian Dagang Bisa Kerek Ekspor Tekstil ke Eropa

Ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) ke Uni Eropa bisa naik 100% apabila pemerintah berhasil menggolkan perjanjian dagang. Oleh karena itu, pelaku industri mendorong pemerintah agar segera menyelesaikan perundingan perjanjian dagang dengan Benua Biru tersebut.

Ade Sudrajat, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), mengatakan saat ini produk TPT yang diekspor ke Uni Eropa dikenakan bea masuk sebesar 11%--25%. Dengan bea masuk ini, pengiriman ekspor tekstil ke sana belum optimal, padahal UE merupakan pasar terbesar di dunia.

"Kalau ada perdagangan bebas dengan UE dan produk Indonesia diperlakukan sama dengan produk Bangladesh dan Vietnam, kami bisa bersaing secara fair. Kalau sekarang, tidak bisa karena kami bayar bea masuk lebih tinggi, sedangkan mereka 0%," katanya di Jakarta, Kamis (28/3/2019).

Saat ini, kontribusi ekspor ke Uni Eropa terhadap total ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia cukup besar walaupun Amerika Serikat masih menjadi pasar terbesar. Dari total ekspor TPT senilai US$13,8 miliar pada tahun lalu, AS berkontribusi sekitar 36%.

Ade melanjutkan, tidak hanya berdampak pada ekspor ke UE apabila perjanjian dagang bisa dirampungkan, tetapi industri juga bisa tumbuh hingga dobel digit. "Saat ini sekitar 6%--7%, dengan perjanjian dengan UE bisa tumbuh hingga dua digit karena buyer bergairah ekspor TPT ke wilayah tersebut melalui Indonesia," ujar Ade.

Lebih jauh, dia menuturkan Indonesia tertinggal dibandingkan negara lain seperti Bangladesh dan Vietnam dalam perjanjian dagang dengan UE, baru sekarang ini pemerintah mengupayakan perundingan. Pelaku usaha pun berharap perjanjian dagang dengan UE bisa dirampungkan pada tahun ini.

Tidak hanya industri TPT, industri alas kaki pun juga menunggu perjanjian dagang dengan UE. Budiarto Tjandra, Ketua Pengembangan Sport Shoes & Hubungan Luar Negeri Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), menyebutkan hingga kini, Amerika Serikat dan kawasan Uni Eropa masih menjadi pasar terbesar untuk produk kaki dalam negeri dengan kontribusi masing-masing sebesar 30%.

Oleh karena itu, apabila Indonesia bisa menyelesaikan perjanjian dagang dengan Uni Eropa, nilai ekspor alas kaki keseluruhan bisa naik 10% hingga 20%. Sepanjang tahun lalu, ekspor alas kaki tercatat sekitar US$5,11 miliar, naik 4,15% dari tahun sebelumnya yang senilai US$4,91 miliar. Dari sisi pertumbuhan, industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki tumbuh 9,42% pada sepanjang 2018, naik cukup tinggi dari tahun sebelumnya sebesar 2,22%.

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com