News Headlines

Industri Air Minum dalam Kemasan Masih Menarik Bagi Investor

Industri air minum dalam kemasan dinilai masih atraktif dengan aksi korporasi yang dilakukan salah satu produsen baru-baru ini.

Diberitakan sebelumnya, produsen AMDK yang berbasis di Jawa Timur, PT Sariguna Primatirta Tbk. mengakuisisi merek Super O2 serta membeli aset produksi air minum dari PT Triusaha Mitraraharja (Tudung Group). Aset produksi air minum yang diakuisisi berupa mesin dan peralatan serta aset terkait lainnya dengan kapasitas 20 juta liter air minum per tahun.

Rachmat Hidayat, Ketua Asosiasi Asosiasi Pengusaha Air Minum Dalam Kemasan (Aspadin), menilai keputusan untuk akuisisi tersebut menyiratkan ada optimisme dari pelaku industri AMDK.

“Ini salah satu tanda bahwa industri AMDK masih atraktif,” ujarnya di Jakarta, Rabu (16/1/2019).

Permintaan produk AMDK dalam negeri saat ini cukup baik dibandingkan dengan produk minuman lainnya. Rachmat menambahkan pemerintah diharapkan bisa memberikan kebijakan yang kondusif bagi industri AMDK.

Saat ini, Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat sedang membahas rancangan undang-undang sumber daya air yang beberapa poinnya dinilai menghambat industri AMDK. Salah satunya adalah pengelolaan sumber daya air harus melalui kerja sama dengan badan usaha milik negara (BUMN), badan usaha milik daerah (BUMD), dan badan usaha milik desa (BUMDes).

“Ini harapan kami, tolong draft UU tersebut dibikin kondusif. Kami menunggu ini,” katanya.

Untuk tahun ini, diperkirakan permintaan bisa tumbuh sebesar 10% dengan harapan pada gelaran pesta demokrasi, puasa, Lebaran, Natal, dan Tahun Baru. Pabrikan AMDK, lanjut Rachmat, tidak melakukan persiapan khusus untuk menghadapi kenaikan permintaan tahun ini.

Dia menyebutkan persiapan tahun ini sama seperti persiapan tahun-tahun sebelumnya dalam menghadapi bulan puasa, Lebaran, Natal, dan Tahun Baru, yaitu dengan membangun distribusi sesolid mungkin dan memperbesar produksi.

Adapun, pada 2019, Rachmat meyakini produksi AMDK dalam negeri bisa melampaui 30 miliar liter per tahun dari tahun lalu yang sebesar 29 miliar liter per tahun.

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com