News Headlines

Peningkatan Investasi Sektor Industri Kimia, Farmasi, & Tekstil Jadi Prioritas

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) jadikan peningkatan investasi sektor industri kimia, farmasi, dan tekstil sebagai program kerja prioritas pada 2019. Peluang investasi pada sektor tersebut dinilai masih luas sehingga perlu didukung iklim regulasi yang baik.

Sekjen Kemenperin Haris Munandar menyampaikan hal tersebut usai pelantikan pejabat eselon III dan IV di lingkungan Kemenperin, Senin (14/01/2019). Dia menjelaskan sektor tersebut penting untuk dikembangkan karena mencakup industri padat modal dan padat karya.

"Industri kimia pasti capital intensive. Nah, industri tekstil dia di tengah-tengah, ada yang labour [intensive] ada yang di capital [intensive]," ujar Haris kepada Bisnis.

Berdasarkan Rencana Strategi (Renstra) Kemenperin 2019, ditargetkan Rp149,7 triliun masuk pada sektor industri kimia, tekstil, dan aneka (IKTA). Haris menjelaskan pihaknya optimistis investasi akan meningkat seiring berbagai kebijakan yang diberlakukan pemerintah, seperti pemberian tax holiday dan tax allowance.

Wakil Ketua Asosiasi Industri Olefin, Aromatik & Plastik Indonesia (Inaplas) Suhat Miyarso menjelaskan langkah pemerintah tepat mengingat banyaknya impor pada sektor tersebut. Menurutnya, investasi yang ditarik ke sektor industri kimia, farmasi, dan tekstil harus dapat mensubstitusi impor.

Dia pun menilai peningkatan sektor tersebut ditopang oleh banyaknya tenaga kerja yang menunjang industri padat karya. Tetapi, menurutnya kemampuan tenaga kerja perlu terus ditingkatkan.

"Peluang investasi masih sangat besar, termasuk kimia dan petrokimia pasarnya luas. Kemudian tekstil dulu dianggap sebagai sunset industry, sekarang jadi andalan," ujar Suhat, Selasa (15/01/2019).

Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ernovian G. Ismy menjelaskan salah satu alasan industri tekstil menjadi prioritas adalah neraca dagang yang terus positif. Berdasarkan data API, hingga September 2018 industri tekstil catatkan surplus US$3,67 miliar, meskipun menurun 5,4% secara tahunan (y-o-y).

Dia pun menjelaskan investasi sektor tekstil harus diarahkan pada restrukturisasi permesinan karena dapat membantu otomasi tiap proses produksi. Selain itu, daya saing industri tekstil pun menurut Ernovian sangat dipengaruhi kemutakhiran mesin.

"Program restrukturisasi mendorong industri TPT [tekstil dan produk tekstil] nasional melakukan ekspansi usaha sehingga menambah devisa ekspor dan penyerapan tenaga kerja," ujar Ernovian kepada Bisnis.

Dia pun menjelaskan pemerintah perlu memberlakukan regulasi yang mendukung investasi dan peningkatan pasar, baik untuk industri tekstil maupun sektor lain.

Selain pengembangan investasi pada sektor industri kimia, farmasi, dan tekstil, Haris pun menjelaskan program lain yang menjadi prioritas Kemenperin tahun ini adalah pengembangan kualitas sumber daya manusia, pengembangan wirausaha baru, dan pengenalan peta jalan Making Indonesia 4.0 kepada negara-negara lain.

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com