News Headlines

Menperin optimistis pertumbuhan manufaktur terkerek pada tahun politik

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto optimistis pertumbuhan industri manufaktur mampu terkerek pada tahun politik.

Bahkan, lanjutnya, beberapa investor tetap yakin menanamkan modalnya karena melihat kondisi politik dan ekonomi di Indonesia yang dinilai tetap stabil menjelang tahun politik.

"Jadi, kita harus lebih optimistis, termasuk kepada para pelaku industri, supaya bisa mengambil peluang," kata Airlangga dalam keterangan persnya di Jakarta, Rabu.

Ia memaparkan, Indonesia mempunyai pengalaman sebelum dan pascareformasi.

Khusus dalam 20 tahun ini, Indonesia telah empat kali pemilu dan hampir setiap dua tahun ada pemilihan kepala daerah (pilkada), yang seluruhnya berjalan lancar dan demokratis.

Untuk itu, Menperin meyakini, pelaksanaan pemilu legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres) yang digelar serentak pada 17 April 2019, juga akan berjalan aman dan damai, sehingga mendukung roda perekonomian guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Airlangga menyebutkan, salah satu katalis kuat yang mampu mendongkrak pertumbuhan industri tahun depan, terutama adalah melonjaknya konsumsi makanan dan minuman (mamin) serta tekstil dan produk tekstil (TPT).

"Komoditas itu yang umumnya banyak dibutuhkan saat musim kampanye," ujarnya.

Kemenperin mencatat, pada 2014, dengan adanya momentum pemilu, industri pengolahan naik menjadi 5,61 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya sebesar 5,45 persen.

Adapun sektor yang menopang lonjakan tersebut, antara lain industri makanan dan minuman, TPT, kulit, barang dari kulit, dan alas kaki.

"Kondisi perekonomian sekarang memang sudah jauh berbeda jika dibandingkan dengan tahun 2000-an. Artinya, ada realita norma baru. Pertumbuhan ekonomi dunia saat ini tidak lagi. Rata-rata kontribusi industri manufaktur terhadap perekonomian di seluruh negara berkisar 17 persen,” paparnya.

Merujuk data World Bank Tahun 2017, lima negara yang industrinya mampu menyumbang di atas rata-rata tersebut, yakni China (28,8 persen), Korea Selatan (27 persen), Jepang (21 persen), Jerman (20,6 persen), dan Indonesia (20,5 persen).

"Pertumbuhan di China saat ini juga single digit. Sekarang PDB kita sudah masuk klub satu triliun dolar AS. Indonesia adalah negara besar, saat ini berada dalam kelompok G20 dan berada di peringkat ke-16 ekonomi dunia," jelasnya.

Menperin memprediksi, pada 2019, industri pengolahan nonmigas akan tumbuh hingga 5,4 persen atau di atas pertumbuhan ekonomi yang dipatok pada angka 5,3 persen.

Sektor industri yang memberi kontribusi tinggi, di antaranya industri makanan dan minuman bakal tumbuh sebesar 9,86 persen.

Selanjutnya, pertumbuhan industri mesin diharapkan akan menembus 7 persen, industri TPT sebesar 5,61 persen, industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki 5,40 persen, serta industri barang logam, komputer, dan barang elektronika 3,81 persen.

"Pada tahun depan, kami juga akan genjot sektor itu agar mampu meningkatkan nilai ekspor, terutama yang punya kapasitas lebih. Selain itu dapat mendorong pengoptimalan tingkat komponen dalam negeri (TKDN)," tuturnya.

Lebih lanjut, Airlangga menegaskan, Indonesia masih menjadi negara tujuan utama investasi khususnya di sektor industri manufaktur.

"Pada era pemerintahan Bapak Jokowi, di klaster Cilegon, Banten, sudah ada beberapa tambahan investasi. Misalnya, Posco dan Krakatau Steel sebesar 3 miliar dolar AS dan beberapa waktu lalu Lotte melakukan groundbreaking senilai 3,5 miliar dolar AS. Jadi, dari segi mother of industry, kita semakin kuat,” ungkapnya.

Menperin pun berharap, upaya itu dapat memberikan efek kepercayaan diri kepada investor lain karena dilakukan menjelang tahun politik.

"Artinya, investor tidak perlu lagi menunggu, bahwa kondisi ekonomi dan politik Indonesia dinilai stabil. Nah, ini kesempatan Indonesia untuk terus memacu investasi," imbuhnya.

Hingga Desember 2018, investasi industri nonmigas diperkirakan mencapai Rp226,18 triliun. Selain menumbuhkan populasi industri, investasi dapat memperdalam struktur industri di dalam negeri sehingga berperan sebagai substitusi impor.

"Populasi industri besar dan sedang bertambah sebesar 6.000 unit usaha. Industri kecil mengalami penambahan jumlah industri yang mendapatkan izin sebanyak 10 ribu unit usaha," paparnya.

Dari capaian tersebut, total tenaga kerja di sektor industri yang telah terserap sebanyak 18,25 juta orang.

Jumlah tersebut naik 17,4 persen dibanding 2015 di angka 15,54 juta orang.

Sumber: https://www.antaranews.com