News Headlines

Investor Korea Selatan makin gencar berinvestasi di Indonesia

Negeri Ginseng semakin menancapkan investasi ke Indonesia. Setidaknya beberapa sektor diminati, seperti petrokimia dan alas kaki.

Lotte Group misalnya, secara global perusahaan tersebut diketahui siap menggelontorkan investasi senilai total US$ 44 miliar dalam lima tahun ke depan. Indonesia menjadi salah satu yang menjadi sasaran investasi Lotte Group, khususnya di bidang industri kimia.

Salah satu lini bisnisnya, Lotte Chemical Titan akan melakukan peletakan batu pertama (ground breaking) untuk pembangunan pabrik yang memproduksi nafta cracker pada akhir tahun 2018 ini. Dengan nilai investasi yang rencananya mencapai US$ 3,5 miliar, pabrik ini diharapkan dapat mendukung pengurangan impor produk petrokimia hingga 60%.

Fajar Budiono, Sekjen Asosiasi Industri Plastik Indonesia (Inaplas) mengatakan, sebenarnya rencana investasi tersebut sudah lama, hanya saja sempat tertunda lantaran permasalahan lahan. "Sebab lahan untuk pabrik petrokimia itu tidak banyak tempat bisa cocok," ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (29/10).

Dibutuhkan kawasan pinggir pantai dengan lahan yang dalam dan luas, opsi tersebut berada di kawasan industri Cilegon, Tuban, Gresik dan Bojonegoro yang sayangnya kepenuhan. Untungnya, kata Fajar, hal tersebut segera teratasi dengan lahan yang sebagian diperoleh dari PT Krakatau Steel Tbk (KRAS).

Menurut Fajar, Indonesia masih sangat potensial untuk menarik dana investor khususnya di petrokimia. "Sebab kebutuhan sekarang sebagian masih diimpor," ungkapnya. Namun, Fajar menyoroti beberapa regulasi haruslah pro industri, sehingga investor tidak perlu merasa ragu masuk ke Indonesia.

Di sektor alas kaki, ada Parkland asal Korea Selatan yang menggelontorkan dana sebesar US$ 75 juta untuk membangun industri alas kaki di Pati, Jawa Tengah dan Sae-A Trading menanamkan modalnya hingga US$ 36 juta untuk sektor tekstil dan garmen di Tegal, Jawa Tengah. Juga Taekwang Industrial yang berencana membangun industri alas kaki senilai US$ 100 juta di Subang dan Bandung, Jawa Barat.

Eddy Widjanarko, Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) mengapresiasi positif investasi tersebut. Namun demikian, menurutnya, ada beberapa catatan yang harus diperhatikan terkait regulasi importasi, pajak dan ketersediaan infrastruktur.

Untuk bahan baku sepatu, kebanyakan pabrikan masih memperolehnya dari impor, hanya saja beberapa regulasi dinilai menghambat hal tersebut. "Lalu soal pajak, dianggap karyawannya banyak dan pabrik besar maka pajaknya juga besar," terang Edy.

Sementara itu beberapa perusahaan Korea Selatan lainnya juga menyatakan minat berinvestasi seperti LS Cable & System yang bermitra dengan PT Artha Metal Sinergi untuk pengembangan sektor industri kabel listrik senilai US$ 50 juta di Karawang, Jawa Barat.

Lalu ada InterVest dengan Kejora Ventures menanamkan modalnya US$ 100 juta untuk jasa pembiayaan startup (modal ventura) di DKI Jakarta. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto sebelumnya mengumumkan total investasi Korea Selatan itu mencapai US$ 446 juta.

Sumber: https://industri.kontan.co.id