News Headlines

Aprisindo: Ekspor sepatu dapat tumbuh 5% tahun ini

Industri sepatu tanah air dikenal memiliki orientasi pasar ekspor. Di tengah penguatan kurs dollar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah, apakah semua pelaku usaha diuntungkan?

Eddy Widjanarko, Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) menerangkan untuk beberapa pemain dengan merek besar kenaikan kurs tersebut tidak terlalu berdampak. "Soalnya bahan baku mereka kebanyakan beli dengan dolar AS," ungkapnya kepada Kontan.co.id, Kamis (4/9).

Sementara bagi pemain sepatu kecil seperti Industri Kecil Menengah (IKM) yang mengandalkan bahan lokal, misalnya kulit, tentu berkemungkinan meraih untung. Hanya saja, kata Eddy, secara nilai segmen tersebut masih kecil dibawah 10% dari total ekspor sepatu Indonesia.

Sebenarnya, Indonesia masih berpeluang melebarkan potensi ekspor sepatunya. Sebab kata Eddy, negara ini ialah produsen sepatu nomor tiga terbesar di dunia bersanding dengan China dan Vietnam.

Sementara itu, untuk 2018 ini asosiasi mematok pertumbuhan ekspor di angka 5%, dimana raihan ekspor sepatu tahun lalu mencapai US$ 4,9 miliar. Artinya tahun ini diharapkan ekspor sepatu mencapai kisaran US$ 5,15 miliar.

Untuk investasi di pabrikan sepatu, menurut Aprisindo Indonesia masih berpotensi untuk meningkatkan kapasitas produksi nasionalnya. Firman Bakrie, Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) mengatakan baru-baru ini saja sudah ada pengoperasian pabrik sepatu baru di Majalengka, Jawa Barat oleh PT Shoetown Ligung Indonesia.

"Pabrik baru tersebut mempunyai luas lahan 41 hektar (ha) dengan target tenaga kerja 20.000 orang," urai Firman kepada Kontan.co.id, Kamis (4/9). Pabrik tersebut bakal memproduksi sepatu brand "Nike" dengan kapasitas awal 1 juta pasang per tahunnya.

Sebelum itu, Kementerian Perindustrian mencatat investasi pabrik sepatu datang dari Korea lewat perusahaan Parkland yang menggelontorkan dananya sebesar US$ 75 juta guna membangun industri alas kaki di Pati Jawa Tengah. Serta ada Taekwang Industrial akan membangun industri alas kaki senilai US$ 100 juta di Subang dan Bandung, Jawa Barat.

Sumber: https://industri.kontan.co.id