News Headlines

Masih Prospektif, Industri Alas Kaki Butuh Tambahan Investasi

Sektor alas kaki dalam negeri masih membutuhkan investasi baru untuk memenuhi kebutuhan global yang terus meningkat.

Firman Bakri, Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), mengatakan kebutuhan produk alas kaki dunia terus naik mengikuti pertumbuhan penduduk. Selain itu, perubahan struktur industri di China, mendorong banyak produsen alas kaki di negara tersebut hengkang. Padahal, permintaan global banyak berasal dari China, sehingga wajar ekspor alas kaki dari Indonesia terus meningkat.

"Kalau melihat dari faktor itu, Indonesia masih butuh investasi baru untuk sektor alas kaki," ujarnya Kamis (13/9/2018).

Firman menyebutkan saat ini investor cenderung berinvestasi ke daerah dengan upah minimum kabupaten (UMK) yang rendah, seperti ke wilayah Jawa Tengah, dalam meningkatkan kapasitas produksi seiring dengan pertumbuhan demand. Pasalnya, sektor alas kaki merupakan industri yang menyerap banyak tenaga kerja.

"Yang paling mempengaruhi sebenarnya bahan baku, tetapi kan bisa disubstitusi. Kalau labor cost enggak bisa dialihkan, khususnya industri alas kaki yang membutuhkan banyak tenaga kerja," jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, menyusul kunjungan Presiden Joko Widodo ke Korea Selatan, sebanyak 6 perusahaan asal negara tersebut menyatakan komitmennya untuk berinvestasi di Indonesia. Dua dari keenam perusahaan tersebut, yaitu Parkland dan Taekwang Industrial bergerak di industri alas kaki.

Parkland menggelontorkan dana senilai US$75 juta untuk membangun pabrik di Pati, Jawa Tengah, dan Taekwang Industrial akan membangun industri alas kaki senilai US$100 juta di Subang dan Bandung, Jawa Barat.

Menurut Firman, kedua investor tersebut telah ada di Indonesia dan kemungkinan komitmen investasi tersebut digunakan untuk memperluas bisnis mereka yang sudah ada.

Saat ini, Indonesia berada di urutan keenam sebagai negara eksportir terbesar di dunia setelah China, Vietnam, Italia, Jerman, dan Belgia. Sepanjang tahun lalu, ekspor alas kaki mencapai 4,52 miliar euro atay naik 7,96% secara tahunan dari 4,19 miliar euro.

Sumber: http://industri.bisnis.com