News Headlines

Penerapan Industri 4.0, Sektor Makanan dan Minuman Bakal Tancap Gas

Perempuan berambut sebahu beberapa kali tampak menggerutu, saat melihat rak roti yang sering disinggahin dalam keadaan kosong.

Neni namanya. Setiap Minggu malam, ia selalu singgah ke peritel modern, untuk mencari sebungkus roti isi coklat keju pun untuk dijadikan sarapan pada Senin pagi sebelum berangkat bekerja. Produk itu adalah makanan favoritnya.

Namun, rencana Neni untuk membeli roti isi cokelat keju pun urung, karena tidak tersedia produk tersebut. Ia hanya melihat roti manis, pisang, keju, kacang dan cokelat. Perempuan berkulit kuning langsat itu langsung keluar dari toko tersebut.

Untuk mewujudkan kebutuhan konsumsi ruti Neni, dibutuhkan sistem yang terkoneksi dengan internet, diolah menjadi big data produsen makanan dan minuman. Kelak, data-data tersebut akan menjadi bekal dalam mendistribusikan jenis makanan dan minuman.

Ketua Gabungan Pengusaha Industri Makanan dan Minuman Adhi S. Lukman mengatakan, untuk menjawab kebutuhan masyarakat khususnya pada sektor makanan dan minuman, maka produsen harus berevolusi ke industri 4.0. Sebelum ada industri 4.0, produsen makanan dan minuman hanya menggunakan industri 2.0 dan 3.0 yang berfokus pada kapasitas produksi supaya lebih murah.

Melalui industri 4.0, produsen makanan dan minuman bisa melakukan pemetaan. Misalnya, masyarakat di Jawa Barat lebih suka produk yang rasa asin, Jawa Tengah lebih makanan yang manis dan Jawa Timur yang lebih tawar. Atas pemetaan produk, maka produksi perusahaan tidak harus dalam jumlah besar.

"Untuk berevolusi menjadi industri 4.0, ada yang perlu dilakukan, antara lain yakni, pertama, mengumpulkan data untuk menjadi big data, lalu dimasukkan ke dalam sistem," ungkapnya kepada Bisnis, Jumat (17/8/2018).

Adhi mengatakan, bila pemetaan sudah dilakukan, maka produksi bisa sesuai dengan kebutuhan dan processing line disesuaikan dengan kebutuhan. Kedua, produsen makanan dan minuman tidak boleh lebih mahal daripada yang dicatatkan saat ini, alias harus lebih murah.

Kemudian, bila processing line sudah sesuai telah sesuai dengan big data, maka integrasi dalam pengiriman juga harus dilakukan. Industri 4.0 akan mengirimkan produk-produk sesuai dengan kebutuhan, sehingga bisa menghemat biaya transportasi dan penyimpanan gudang.

"Kalau dulu, produk yang dihasilkan banyak, dengan alasan supaya lebih murah. Lalu didistribusikan, disimpan di gudang dan banyak juga retur penjualan. Dalam industri 4.0, akan ada permintaan yang spesifik, harga murah dan tak perlu biaya gudang dalam jumlah besar," kata Adhi.

Dia menilai, rangkaian itu yang akan menyatukan, sehingga menciptakan harga yang lebih kompetitif dan sesuai kebutuhan di pasar.

Penerapan industri 4.0 juga memiliki tantangan yakni, konversi mesin menjadi otomatisasi dan robotik. Mesin produksi yang dimiliki perusahaan harus memiliki artificial intelligence (AI).

Belajar dari Amerika Serikat yang telah lama menggunakan AI. AI adalah kecerdasan yang ditambahkan pada suatu sistem, untuk bisa diatur dalam konteks ilmiah.

Adhi menceritakan, ada satu restoran di Amerika yang mengumpulkan dana pelanggan dengan AI dalam periode tertentu. Lalu, pengelola restoran pun bisa menyimpulkan kebiasaan memesan, seperti jam makan dan jenis makanan. Penerapan AI itu merupakan alat pendukung industri 4.0.

Dia mengungkap, hanya sekitar 20% produsen makanan dan minuman yang siap untuk menerapkan industri 4.0. Namun, ada juga yang menerapkan secara terpisah. Misalnya, Indofood telah menerapkan industri 4.0 pada processing line, akan tetapi belum terintegrasi dengan mesin.

Ada juga, Unilever Indonesia yang menerapkan 4.0 pada sistem distribusi. Dia menambahkan, ada juga perusahaan yang hanya menerapkan di warehouse.

Adhi kini juga menjabat sebagai Direksi PT Niramas Utama, atau yang dikenal sebagai produsen nata de coco dengan merek Inaco. Perusahaan yang dia pimpin telah menerapkan industri 4.0 dalam internal processing, akan tetapi belum diintegrasikan ke jalur distribusi hingga ke pasar.

Keuntungan yang sudah dirasakan oleh Niramas Utama adalah perseroan lebih efisiensi dalam perencanaan produksi, biaya modal lebih rendah karena tidak menyimpan kelebihan stok dan biaya gudang murah karena stok yang menumpuk tidak banyak, dengan kata lain, sesuai kebutuhan di pasar.

Saat dihubungi terpisah, External Communications Head PT Nippon Indosari Corpindo Tbk. Stephen Orlando mengatakan, perseroan telah menggunakan berteknologi yang berkolaborasi dengan sumber daya manusia yang andal dan terlatih.

"Teknologi membantu kami dalam menjaga konsistensi kualitas produk yang dihasilan dan menjaga efisien," tulisnya dalam pesan singkat.

Pada kesempatan lain, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir menegaskan, dalam menghadapi revolusi Industri 4.0, dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki inovasi.

Bak gayung bersambut. Dalam penerapan APBN 2019, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan akan berfokus pada pembangunan manusia mempersiapkan industri 4.0. Arilangga memerinci, industri yang dikembangkan adalah makanan dan minuman, otomotif, elektronik, kimia, serta tekstil.

"Presiden juga sudah reorganisasi untuk Kementerian Perindustrian, jadi kemenperin akan lebih disiapkan untuk industri 4.0 dan pengembangan pembangunan," jelasnya.

Bila Kabinet Kerja serius mendorong pelaku usaha untuk industri 4.0, maka efisiensi pun berpontensi akan tercipta. Selain itu, tidak akan konsumen serupa seperti Neni yang tak menemui makanan kesukaannya yang rutin dibeli tiap minggu.

Sumber: http://industri.bisnis.com