News Headlines

Pengusaha Makanan & Minumam Yakin Tahun Ini Tumbuh 2 Digit

Pelaku usaha industri makanan dan minuman menyatakan kondisi bisnis pada kuartal II/2018 lebih baik dibandingkan tahun lalu maupun kuartal sebelumnya. Kondisi tersebut diyakini akan terus berlanjut hingga akhir tahun ini.

Adhi S Lukman, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi), mengatakan pada periode tersebut, bisnis makanan dan minuman dirasa lebih baik yang didorong peningkatan permintaan masyarakat pada Hari Raya Lebaran. Permintaan ini terkerek karena masyarakat menerima dana tunjangan hari raya (THR) dan gaji.

Ketenangan situasi perpajakan juga menjadi salah satu pendorong pertumbuhan industri tersebut. "Dunia usaha merasakan kuartal II tahun ini lebih bagus dibandingkan tahun lalu," ujarnya Rabu (8/8).

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan nonmigas tumbuh sebesar 4,41% secara tahunan pada kuartal II/2018. Pertumbuhan ini didorong oleh industri makanan dan minuman yang tumbuh sebesar 8,67% y-o-y, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 6,48%.

Sepanjang tahun ini, Gapmmi memproyeksi industri makanan dan minuman bisa tumbuh di atas 10% atau lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang sebesar 9,23%.

Sementara itu, Kementerian Perindustrian menyatakan industri makanan dan minuman dalam negeri telah kembali on track.

Achmad Sigit Dwiwahjono, Plt Dirjen Agro Kementerian Perindustrian, mengatakan kinerja industri mamin tahun ini melanjutkan pertumbuhan tinggi sejak kuartal akhir 2017. Pada 3 bulan pertama tahun ini, industri mamin tumbuh 12,77%.

"Secara tradisi, industri mamin kan tumbuhnya antara 8%--10%, jadi sekarang baru kembali ke track," ujarnya Selasa (7/8).

Sigit menyatakan tahun lalu memang menjadi tahun yang menantang bagi industri mamin dengan pertumbuhan di bawah 8% selama paruh pertama. Pelaku industri mamin menilai pertumbuhan pada paruh pertama tahun lalu tidak optimal karena peraturan pemerintah yang terus berubah, sehingga pabrikan mengalami perlambatan produksi.

Selain itu, faktor daya beli masyarakat menurun dan lebih memilih menahan diri untuk membeli produk mamin juga dinilai menjadi faktor penurunan penjualan.

Sumber: http://industri.bisnis.com