News Headlines

Sinkronisasi Industri Hulu dan Hilir Jadi Kunci di Industri Makanan

Sinkronisasi industri hulu hingga hilir dan program antarkementerian dan lembaga menjadi kunci utama peningkatan daya saing produk makanan Indonesia. Daya saing yang kuat akan mendorong pertumbuhan ekspor produk tersebut di pasar global.

Adhi S Lukman, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi), mengatakan saat ini banyak tantangan yang dihadapi sektor makanan yang menghambat peningkatan ekspor, terutama masalah ketergantungan bahan baku yang tinggi. Hal ini disebabkan industri hulu kurang didukung pengembangannya oleh pemerintah, di sisi lain hilirisasi terus berjalan.

Adhi mencontohkan di sektor pengolahan kakao misalnya, pada 2010 pemerintah mengadakan program gerakan nasional (gernas) dan mendorong industrialisasi dengan menaikkan bea keluar sebesar 10% dengan tujuan agar biji kakao diolah di dalam negeri. Dalam kurun waktu 4 tahun, kapasitas industri pengolahan kakao naik dari 100.000 ton per tahun menjadi 600.000 ton per tahun.

Namun, gerakan garnas hanya berlangsung sekitar 2 tahun, sehingga produksi kakao domestik menurun dari sekitar 950.000 ton menjadi 400.000 ton. Industri pengolahan pun akhirnya mengimpor bahan baku kakao karena produsen dalam negeri tidak mampu memenuhi kebutuhan.

Selain itu, produk susu juga hanya mampu memenuhi 20% kebutuhan industri pengolahan karena produksi dan populasi sapi perah yang kurang. Padahal dari sisi kualitas, susu dalam negeri sudah bisa diserap oleh industri.

"Sektor hulu ini harus diperbaiki untuk meningkatkan daya saing, sekarang kan sudah masuk era global value chain," katanya di Jakarta, Senin (28/5/2018).

Adhi juga berharap pemerintah dapat melonggarkan ketentuan impor bahan baku sepanjang komoditas tersebut belum dapat dipenuhi di dalam negeri. Pasalnya, kelancaran pasokan bahan baku akan meningkatkan nilai tambah dan penciptaan lapangan kerja.

Saat ini, dia memandang masih terdapat regulasi yang kurang mendukung industri, seperti impor gula sebagai bahan baku dikenakan bea masuk tinggi, tetapi impor produk jadi yang mengandung gula justru dikenakan bea masuk 0% hingga 5%.

"Negara lain, seperti Singapura itu enggak mikir impor atau enggak impor bahan baku karena memang terbatas sumbernya. Namun mereka bisa ekspor produk jadi yang murah," kata Adhi.

Lebih lanjut, dia menyebutkan peningkatan ekspor produk makanan menjadi penting untuk menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat seperti yang terjadi saat ini. Namun, ekspor produk makanan tidak akan maksimal selama sinkronisasi belum terjadi dan hambatan tarif dan nontarif yang dikenakan negara tujuan ekspor diatasi.

Sepanjang kuartal I/2018 industri makanan menjadi penyumbang utama ekspor industri pengolahan senilai US$7,42 miliar, disusul industri logam dasar senilai US$3,68 miliar, dan industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia senilai US$3,25 miliar.

Sumber: http://industri.bisnis.com