News Headlines

Ekspor Manufaktur Indonesia Digenjot

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan pihaknya terus menarik investasi baru maupun untuk perluasan dalam upaya peningkatan ekspor produk manufaktur. Pada 2030, ditargetkan ekspor Indonesia mencapai 10% dari produk domestik bruto.

Melalui penanaman modal tersebut, industri pengolahan juga akan membawa dampak berganda pada perekonomian nasional, seperti penyerapan tenaga kerja, peningkatan nilai tambah bahan baku dalam negeri, dan penerimaan negara dari ekspor.

Selain itu, pemerintah juga mendorong peningkatan kapasitas produksi serta akses kemudahan dalam upaya memperluas pasar produk industri, baik di pasar domestik maupun ekspor.

“Kalau pasarnya optimal, produksinya juga bisa lebih maksimal,” katanya di Jakarta akhir pekan lalu.

Oleh karena itu, Kemenperin semakin gencar meningkatkan kinerja industri berorientasi ekspor. Pada kuartal I/2018, industri yang mencatatkan kinerja ekspor terbesar adalah industri makanan senilai US$7,42 miliar, industri logam dasar senilai US$3,68 miliar, dan industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia senilai US$3,25 miliar.

Secara keseluruhan, industri manufaktur mencatatkan nilai ekspor sebesar US$32 miliar atau naik 4,5% dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama tahun lalu di angka US$30,6 miliar. Negara tujuan ekspor utama produk manufaktur Indonesia antara lain Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, India, dan Singapura.

Beberapa waktu lalu, sejumlah produk industri manufaktur Indonesia diekspor secara langsung ke Amerika Serikat dengan menggunakan kapal kontainer berukuran besar, yang nilai ekspornya mencapai US$11,98 Juta.

Namun, dia juga mengatakan industri pengolahan dalam negeri tidak boleh melupakan pasar domestik yang sangat besar. Apabila pasar dalam negeri tidak dimanfaatkan dengan baik, maka akan diisi oleh produk impor.

"Kalau kita ekspor, tetapi banyak impor juga kan percuma. Makanya, pengembangan industri untuk substitusi impor, pendalaman struktur, dan export oriented harus dijaga ketiga-tiganya," ujarnya.

Terkait dengan penanaman modal, Kemenperin mencatat investasi industri manufaktur sepanjang kuartal I/2018 mencapai Rp62,7 triliun. Realisasi ini terdiri dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) senilai Rp21,4 triliun dan penanaman modal asing (PMA) sebesar US$3,1 miliar.

Sektor industri logam, mesin, dan elektronik menjadi penyumbang terbesar dengan nilai investasi mencapai Rp22,7 triliun.

Sumber: http://industri.bisnis.com