Investasi Manufaktur Kuartal I/2018 Capai Rp62,7 triliun

Realisasi investasi sektor manufaktur sepanjang kuartal I/2018 senilai Rp62,7 triliun.

Berdasarkan data yang dirilis Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi tersebut terdiri dari penanaman modal dalam negeri senilai Rp21,4 triliun dan penanaman modal asing senilai US$3,1 miliar. Apabila dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama pada tahun sebelumnya, maka realisasi pada 3 bulan pertama tahun ini lebih rendah.

Pada kuartal I/2017 realisasi investasi sektor manufaktur mencapai Rp70,2 triliun yang terdiri dari PMDN senilai Rp27,2 triliun dan PMA senilai US$3,2 miliar.

Azhar Lubis, Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM, mengatakan kendati lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pada tahun lalu, sektor manufaktur bukan berarti sedang dalam kondisi yang tidak baik. Dia menilai hal tersebut disebabkan sektor lain yang tumbuh lebih cepat.

"Yang sekarang lagi cepat naik itu sektor kelistrikan dan properti, tetapi bukan berarti manufaktur enggak oke," katanya Senin (30/4/2018).

Sektor industri logam, mesin, dan elektronik menjadi penyumbang kedua terbesar realisasi investasi setelah sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran dengan nilai investasi Rp22,7 triliun.

Menurut Azhar, industri logam, mesin, dan elektronik banyak disumbang oleh pembangunan smelter nikel di Morowali dan Konawe. "Di Morowali itu yang investasi Tsingshan Group dan ada investor lain juga," katanya.

Secara keseluruhan, realisasi investasi pada kuartal I/2018 mencapai Rp185,3 triliun atau naik 11,8% secara tahunan. Thomas Lembong, Kepala BKPM, mengatakan realisasi tersebut merupakan buah keputusan investasi yang diambil pada tahun lalu.

Dirinya meyakini ke depan realisasi investasi akan meningkat lebih baik dengan kebijakan-kebijakan yang telah dirilis pemerintah seperti revisi aturan tax holiday, aturan tenaga asing, dan lainnya. Adapun, industri logam disebutkan sebagai penyelamat PMA pada kuartal I/2018, selain sektor e-commerce.

"Terutama masuk ke smelter nikel yang banyak di Morowali dan Maluku. Itu megaproyek dan sudah menghasilkan lebih dari Rp30 triliun, ke depan bisa sampai US$5 miliar sampai US$10 miliar. Ini sangat penting untuk menjaga kelangsungan investasi di dalam negeri," kata Lembong.

Sumber: http://industri.bisnis.com