News Headlines

Indeks naik, industri manufaktur diyakini semakin ekspansif

Indeks manajer pembelian atau purchasing manager index (PMI) Indonesia pada Mei 2018 menyentuh level tertinggi dalam 23 bulan, yakni sebesar 51,7 atau naik dari bulan sebelumnya 51,6.

PMI tersebut dirilis oleh Nikkei dan Markit setelah menyurvei sejumlah manajer pembelian di beberapa perusahaan pengolahan Indonesia, di mana PMI di atas 50 menandakan manufaktur tengah ekspansif.

“Kenaikan PMI ini sangat positif, membuktikan bahwa industri manufaktur kita sedang bergeliat. Untuk itu, kami terus dorong agar lebih produktif dan berdaya saing,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, Rabu.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), pada kuartal I tahun 2018, industri manufakur nasional skala besar dan sedang di dalam negeri mengalami peningkatan produksi sebesar 0,88 persen, lebih tinggi dibanding kuartal IV/2017 (quarter to quarter/q-to-q) atau tumbuh 5,01 persen dari kuartal I-2017 (year on year/y-on-y).

Read more...

Investasi Sektor Manufaktur Harus Dijaga

Investor di sektor manufaktur perlu dijaga agar tidak hengkang ke negara lain. Investasi dinilai menjadi satu-satunya andalan untuk tetap memacu pertumbuhan perekonomian dan membuka lapangan kerja.

Eka Sastra, anggota DPR RI, mengatakan investor harus dijaga di tengah pengembangan industri 4.0 yang berbasis big data. Hal ini yang membedakan industri 4.0 dengan industri pada gelombang-gelombang sebelumnya.

“Soal revolusi industri 4.0 ini bukan soal siap atau tidak tapi bagaimana masyarakat terlibat di dalamnya”, ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (4/6/2018).

Dalam diskusi Forum Diskusi Ekonomi Politik (FDEP) bertajuk Menjaga Kelangsungan Investasi Indonesia, pengamat ekonomi UGM Tony Prasetiantiono menyampaikan pemerintah sejauh ini sudah menyiapkan 5 sektor industri untuk dihadapkan pada revolusi industri 4.0. Sektor itu adalah makanan dan minuman, tekstil, otomotif, elektronik, dan kimia.

Read more...

Kementerian Perindustrian Akan Siapkan Standar Kawasan Industri Halal

Kementerian Perindustrian bakal menyusun standar untuk kawasan industri halal menyusul inisiatif PT Modernland Realty Tbk. melalui anak usahanya PT Modern Industrial Estat (Modern Cikande Industrial Estate) untuk mengembangkan klaster industri halal.

I Gusti Putu Surywirawan, Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, mengatakan saat ini standar belum disusun karena belum ada pengembangan kawasan industri halal. Dengan rencana pengembangan klaster halal di Cikande, Serang, Banten tersebut, Kemenperin perlu membuat standar.

"Untuk menjadi kawasan industri halal apa syaratnya, harus ada standar. Jangan sampai sudah berkembang, standar belum ada. Nanti semua bisa klaim dan kontrolnya susah," ujarnya.

Read more...