Kementerian Perindustrian meramalkan perbaikan kondisi sektor manufaktur akan berlanjut pada kuartal IV/2020. Namun, pertumbuhan positif dinilai baru akan terjadi pada 2021.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan bahwa pertumbuhan sektor manufaktur sepanjang 2020 akan minus 2,2 persen. Dengan kata lain, pertumbuhan industri pengolahan nonmigas diramalkan berkontraksi sekitar 1,1 persen secara tahunan pada kuartal IV/2020.

"Dengan asumsi pandemi sudah bisa dikendalikan dan aktivitas ekonomi sudah bisa kembali pulih, kami memproyeksikan pertumbuhan industri manufaktur pada 2021 akan tumbuh 3,95 persen," katanya dalam Konferensi Pers Akhir 2020, Senin (28/12/2020).

Selain itu, Agus menyatakan seluruh subsektor manufaktur nasional akan tumbuh positif sepanjang 2021. Selain itu, setidaknya ada tiga subsektor yang diramalkan mencatatkan akselerasi pertumbuhan pada 2021, yakni industri makanan, minuman, serta kertas dan barang dari kertas.

Berdasarkan data Kemenperin, akselerasi terbesar akan terjadi pada industri minuman. Kemenperin meramalkan industri minuman dapat tumbuh 4,39 persen secara tahunan pada 2021, sedangkan realisasi pertumbuhan sepanjang 2020 diprediksi merosot ke 2,5 persen secara tahunan.

Selain itu, Agus memberi penekanan khusus pada beberapa sektor manufaktur, seperti industri farmasi, produk obat, kimia, obat tradisional, bahan kimia, barang dari bahan kimia, logam dasar, dan makanan.

Menurutnya, beberapa sektor tersebut tidak akan mengalami kontraksi pertumbuhan pada 2021.

Sebelumnya, Agus menyampaikan bahwa pihaknya akan melaksanakan kegiatan prioritas nasional. Adapun, Agus menyatakan bahwa lima kegiatan maupun target yang ditetapkan memiliki kriteria tertentu.

"[Akan diutamakan kegiatan yang] mendukung prioritas nasional [dalam] memperkuat ketahanan ekonomi untuk pertumbuhan yang berkualitas dan berkeadilan, serta prioritas nasional [dalam] meningkatkan sumber daya manusia dan berdaya saing," katanya kepada Bisnis.

Pertama, kegiatan prioritas dalam rangka peningkatan nilai tambah, lapangan kerja, dan investasi di sektor riil. Menperin menyatakan bahwa beberapa kegiatan yang dimaksud adalah pengembangan industri petrokimia di Teluk Bintuni.

Kedua, kegiatan prioritas dalam rangka penguatan kewirausahaan, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dan koperasi. Agus mengatakan pihaknya akan mencapai target tersebut dengan mengembangkan sentra industri kecil menengah (IKM) dan mengembangkan produk IKM.

Ketiga, kegiatan prioritas dalam rangka peningkatan ekspor bernilai tambah tinggi dan penguatan tingkat kandungan dalam negeri. Kemenperin akan melakukan pendampingan pada pabrikan untuk meningkatkan ekspor.

Keempat, kegiatan prioritas dalam rangka optimalisasi pemanfaatan teknologi digital dan industri 4.0. Kemenperin, ucap Agus, berencana untuk mengembangkan dara industri 4.0 dan pembangunan pusat inovasi dan pengembangan industri 4.0.

Terakhir (kelima), kegiatan prioritas dalam rangka peningkatan produktivitas dan daya saing SDM. "[Hal tersebut akan dilakukan] melalui pelatihan industri berbasis kompetensi dan pendidikan vokasi dan kejuruan industri berbasis kompetensi menuju dual system," katanya.

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com