Sejumlah tantangan harus dihadapi industri plastik hilir. Sebut saja terimbas efek gulir pandemi corona (Covid-19) dan pelarangan penggunaan kantong plastik (kresek) sekali pakai di sejumlah daerah.

Untuk daerah DKI Jakarta misalnya, pemerintah provinsi setempat telah mengeluarkan Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 142 Tahun 2019 tentang Kewajiban Penggunaan Kantong Belanja Ramah Lingkungan.

Beleid yang mulai berlaku pada Juli 2020 tersebut yang melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai di pusat perbelanjaan, toko swalayan, dan pasar rakyat.

Meski begitu, di  luar kantong plastik kresek, permintaan produk plastik hilir lain dinilai masih positif. Untuk kemasan plastik jenis modern packaging misalnya.

Sekjen Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono mengatakan, saat ini utilisasi produksi kemasan plastik modern packaging sudah mencapai di atas 70%.

Diakui Fajar, angka tersebut memang belum menyamai tingkat utilisasi produksi modern packaging yang biasanya mampu mencapai 90%-95% pada kondisi normal, namun angka tersebut relatif jauh tinggi bila dibandingkan utilisasi produksi kantong kresek plastik yang saat ini masih berada di bawah 40%.

“Utilisasi modern packaging sudah lumayan agak bagus. Belum 100% pulih tapi sudah di atas 70%, karena rata-rata industri (pengguna kemasan) utilisasinya belum bisa 100%,” kata Fajar saat dihubungi Kontan.co.id, Selasa (6/10).

Lebih lanjut Fajar menjelaskan bahwa sebagian besar penjualan  produk modern packaging di dalam negeri diserap oleh sektor industri makanan minuman (mamin) dengan porsi hingga 40% dari total penjualan.

Beberapa contoh modern packaging yang dimaksud antara lain seperti kemasan primer atau primary packaging untuk membungkus produk makanan mie instan, minuman sachetan siap seduh, dan sebagainya. Di luar sektor mamin, produk-produk modern packaging juga menyasar sektor lain dengan porsi kontribusi yang lebih kecil seperti misalnya farmasi, pertanian, dan lain-lain dengan bentuk kemasan yang beragam, baik dalam bentuk kemasan fleksibel (flexible packaging) maupun kemasan kaku (rigid packaging) seperti misalnya botol obat yang terbuat dari plastik, dan sebagainya.

Berdasarkan catatan Fajar, permintaan kemasan di sektor farmasi untuk keperluan pengemasan suplemen, dan lain-lain meningkat hingga mencapai dua kali lipat, meski porsi kontribusinya tidak terlalu besar.

Sementara itu, permintaan kemasan dari sektor mamin, terutama yang konsumsinya tidak bergantung pada sektor pariwisata dinilai masih cukup baik. Faktor-faktor ini kemudian turut mendorong utilisasi produksi modern packaging nasional sehingga bisa mencapai di atas 70%.

“Permintaan modern packaging seperti misalnya untuk mie instan dan kopi sachet itu masih bagus. Orang-orang memang banyak berdiam diri di rumah, tapi mereka kan harus tetap makan dan minum juga,” jelas Fajar.

Dihubungi terpisah, Sekretaris Perusahaan dan Direktur PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID) Lukman Hakim mengatakan, bisnis perusahaan tidak terlalu terdampak oleh penerapan pelarangan penggunaan kantong plastik kresek di toko swalayan, sebab perusahaan saat ini memfokuskan penjualan pada kemasan plastik food grade.

Permintaan kemasan plastik sendiri, menurut Lukman, masih baik. Terlebih, aktivitas masyarakat di luar rumah yang berkurang di tengah situasi pandemi membuat kebutuhan akan kemasan plastik semakin meningkat akibat transaksi pesan antar makanan daring (online food delivery) yang marak.

Di samping itu, PBID juga sudah melakukan diversifikasi produk dengan menjual kemasan kertas seperti dus kue, kertas nasi, dan dus makanan. Tidak tanggung-tanggung, dengan kondisi yang ada, PBID optimis mampu mencatatkan pertumbuhan penjualan double digit secara kuartalan di kuartal ketiga tahun ini.

“Kami masih optimis pertumbuhan penjualan kuartal III 2020 dibanding kuartal II 2020 akan naik 10%,” kata Lukman kepada Kontan.co.id, Selasa (6/10).

Sementara itu, Presiden Direktur PT Champion Pacific Indonesia Tbk (IGAR), Antonius Muhartoyo mengatakan bahwa permintaan kemasan dari sektor farmasi sejauh ini masih baik. Meski begitu, ia memproyeksi permintaan tersebut berpotensi mengalami penurunan di Oktober - Desember 2020 lantaran adanya penundaan tender obat BPJS Kesehatan.

Menyikapi situasi yang demikian, seandainya penurunan terjadi, IGAR membuka peluang untuk memperbesar porsi penjualan kemasan sektor makanan dan minuman. Sayangnya, Antonius belum merinci seberapa besar proyeksi kontribusi sektor mamin dalam total penjualan kemasan IGAR nantinya.

“Kita akan mencari peluang-peluang lain, mungkin makanan dan minuman,”’ kata Antonius kepada Kontan.co.id (6/10).

Sumber: https://industri.kontan.co.id