Permintaan yang hilang sekitar akhir semester I/2020 membuat pertumbuhan nilai ekspor alas kaki konsisten melambat hingga Agustus 2020. Namun demikian, industriawan optimistis realisasi pertumbuhan nilai ekspor alas kaki akhir 2020 tetap berada pada zona hijau.

Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) menyatakan hal tersebut dipicu oleh mulai bergeraknya proses produksi di pabrikan alas kaki berorientasi ekspor. Dengan kata lain, pabrikan alas kaki lokal telah mendapatkan permintaan untuk kebutuhan pasar awal kuartal IV/2020.

"Kemungkinan data [pertumbuhan ekspor alas kaki] September 2020 akan menurun [lagi], tapi kondisi sekarang sebenarnya sudah ada perbaikan di pabrik [berorientasi ekspor]. Mungkin baru tercermin pada Oktober 2020," kata Direktur Eksekutif Aprisindo Friman Bakrie kepada Bisnis, Selasa (15/8/2020).

Badan Pusat Statistik (BPS) mendata nilai ekspor alas kaki yang tergabung dalam pos tarif 64 tumbuh melambat sebesar 7,97 persen secara tahunan selama Januari-Agustus 2020 menjadi US$3,1 miliar. Adapun, pertumbuhan nilai ekpor selama Januari-Juli sebesar 10,55 persen, sedangkan pada Januari-Juni mencapai 13 persen.

Seperti diketahui, kontrak produksi alas kaki untuk pasar global telah habis per Juni 2020. Alhasil, utilisasi industri alas kaki berorientasi ekspor merosot ke bawah level 50 persen pada akhir Juli.

Namun, Firman menyampaikan tingkat utilisasi pabrikan berorientasi ekpor per September 2020 sudah lebih baik dari posisi Juli 2020. Firman belum dapat menyampaikan tingkat utilisasi per September 2020.

"Yang jelas sudah cukup baik dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, apalagi kan yang paling berat [kondisi pabrikan] pada Mei-Juni 2020," ucapnya.

Pada awal tahun, Firman meramalkan nilai ekspor alas kaki akan rebound dari penurunan nilai ekspor 2019 atau tumbuh sekitar 13 persen secara tahunan pada akhir 2020. Namun demikian, pandemi Covid-19 membuat Asprisindo merevisi target tersebut menjadi kembali tumbuh di zona merah.

Walakin, masuknya permintaan alas kaki untuk pasar Natal dan Tahun baru membuat Firman optimistis realisasi ekspor alas kaki dapat bertahan di zona hijau. Namun demikian, pertumbuhan ekspor pada 2020 belum akan mengembalikan performa ekspor industri alas kaki nasional kembali seperti pada 2018.

"Mungkin [pertumbuhannya] masih satu digit, tapi setidaknya itu positif. Harus lihat kondisi ekspor Oktober seperti apa [baru bisa prediksi lebih jauh]," ujar Firman.

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com