Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) menyatakan peningkatan performa ekspor baja selama semester I/2020 bukan berasal dari industri baja hasil investasi lama.

Badan Pusat Statistik (BPS) mendata nilai ekspor besi dan baja selama paruh pertama 2020 naik 35,04 persen menjadi US$4,5 miliar. Namun demikian, performa tersebut didominasi oleh ekspor produk baja karbon.

"Kenaikan ekspor di industri logam itu sebenarnya didorong oleh produksi nikel yang ada di Morowali. Jadi, gambarannya dari sana, bukan yang existing," kata Wakil Ketua Umum IISIA Ismail Mandry kepada Bisnis, Rabu (15/7/2020).

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan pertumbuhan ekspor tertinggi berasal dari komoditas besi baja.

Hal tersebut disebabkan oleh perusahaan di Kawasan Industri Morowali dengan tujuan pasar utamanya ke China dan beberapa negara lainnya.

Menurutnya, investasi di Kawasan Industri Morowali terus menunjukkan peningkatan, dari tahun 2017 sebesar US$3,4 miliar menjadi US$5 miliar sepanjang 2018. Jumlah penyerapan tenaga kerjanya pun terbilang sangat besar, mencapai 30.000 orang.

Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah, yang sudah berhasil melakukan hilirisasi terhadap nickel ore menjadi stainless steel. Dari kawasan terintegrasi ini mampu menyumbang nilai ekspornya sebesar US$4 miliar, baik itu pengapalan produk hot rolled coil maupun cold rolled coil ke Amerika Serikat dan China.

Kepala SubDirektorat Industri Logam Bukan Besi Kemenperin Bimo Pratomo mengatakan pihaknya telah melakukan perencanaan jangka panjang terhadap pendalam industri nikel nasional.

Adapun, salah satu langkah yang dapat menopang hal tersebut adalah pembatasan ekspor nickel ore pada tahun lalu.

"Untuk smelter itu sudah tumbuh, pengembangan di hulu sudah selesai. Jadi mungkin hilirisasinya [yang sekarang harus dijalankan]. Kami [menargetkan industri nikel nasional bisa] memproduksi produk-produk hilir seperti baterai dan stainless steel sampau ke alat masak," ujarnya belum lama ini.

Bimo berujar pabrikan dalam negeri telah berhasil menjadi produsen baja nirkarat terbesar di dunia. Namun demikian, lanjutnya, pabrikan pengguna baja nirkarat lokal masih melakukan impor lantaran kualitas produksi baja nirkarat nasional yang terlalu tinggi

Bimo menjelaskan baja nirkarat yang diproduksi di PT Indonesia Morowali Industrial Park merupakan baja dengan kadarĀ  nikel yang tinggi sebagai bahan baku pipa untuk kebutuhan ekstrem di pabrik kimia maupun petrokimia.

Kemenperin, lanjutnya, kini melakukan kajian permintaan dan pasokan untuk menarik investasi ke industri antara nikel di dalam negeri.

"Sekarang sebagian besar [produk hulu nikel] diekspor. Kira-kira kebutuhan di dalam negeri berapa? Saya yakin banyak. [Setelah kajian tersebut rampung] nanti dipetakan industri apa yang dibutuhkan di dalam negeri [untuk pendalaman industri nikel nasional]," ujarnya.

Di sisi lain, Bimo menyampaikan tantangan yang dialami oleh sektor pertambangan nikel adalah minimnya smelter pengolah bijih nikel berkadar rendah. Selain itu, lanjutnya, smelter yang umum ditemukanĀ  di dalam negeri memiliki skala keekonomian jika menggunakan bijih nikel berkadar tinggi.

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com