Bank Indonesia (BI) menyatakan komponen volume produksi dalam perhitungan Prompt Manufacturing Index (PMI) pada kuartal II/2020 anjlok ke level 25,36. Kamar Dagang Indonesia (Kadin) sepakat bahwa kondisi produksi sektor manufaktur akan jauh membaik pada kuartal III/2020.

Adapun, BI meramalkan volume produksi dalam perhitungan Prompt Manufacturing Index (PMI) pada kuartal III/2020 akan membaik ke level 47,98. Kadin menilai ramalan tersebut realistis lantaran protokol pembatasan sosial berskala besar (PSBB) telah dilonggarkan sejak akhir kuartal II/2020.

"Semakin banyak industri berjalan, PMI industri akan meningkat. Tapi, sekaran problemnya bukan di industrinya saja, tapi demand-nya kurang. Kalau BI mempreduksi [volume produksi naik ke sekitar level] 47, bisa saja. Saya yakin di kuartal III/2020 akan lebih baik dari kuartal II/2020," ujar Wakil Ketua Kadin Bidang Industri Johnny Darmawan kepada Bisnis.com, Senin (13/7/2020).

Johnny menyatakan saat ini utilitas sektor manufaktur anjlok ke kisaran 30-50 persen. Namun demikian, Johnny optimistis angka tersebut dapat membaik pada kuartal III/2020 ke level 70 persen.

Johnny menilai sektor manufaktur yang akan cepat pulih adalah industri kebutuhan pokok seperti industri makanan dan minuman. DI sisi lain, lanjutnya, perbaikan utilitas pada sektor yang memproduksi produk tersier akan terbatas.

Namun demikian, Johnny menilai faktor daya beli masyarakat akan berperan penitng dalam perbaikan kondisi sektor manufaktur nasional pada paruh kedua 2020.

Di sisi lain, Johnny sepakat dengan prognosis Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang meramalkan bahwa sektor manufaktur nasional akan tumbuh negatif. Menurutnya, hal tersebut sesuai dengan kondisi dan kemampuan sektor manufaktur nasional yang terdampak pandemi Covid-19.

Seperti diketahui, Kemenperin mencatat secara ringkas 60 persen dari total industri sangat terdampak oleh pandemi Covid-19, sedangkan 40 persen masih dapat bertahan dan bahkan memiliki peningkatan permintaan.

Berdasarkan catatan Kemenperin, setidaknya ada tiga sektor manufaktur yang memiliki peningkatan permintaan, yakni alat kesehatan, farmasi dan fitofarmaka, dan makanan dan minuman. Sementara itu, industri petrokimia memiliki dampak yang moderat.

Adapun, setidaknya ada 10 sektor manufaktur yang memiliki dampak berat dari pandemi Covid-19. Sektor dengan dampak terberat dimiliki oleh sektor otomotif.

Sebelumnya, IHS Markit mendata Purchasing Manager's Index (PMI) di Asia Tenggara naik 8,2 poin indeks ke level 43,7 dari posisi bulan sebelumnya 35,5. Walau demikian, PMI di beberapa negara telah menembus level 50,0 seperti Vietnam (51,1) dan Malaysia (51,0).

Sementara itu lima negara lainnya yang mengikuti survei PMI masih menujukkan kontraksi, seperti Filipina (49,7), Myanmar (48,7), Thailand (45,3), Indonesia (39,1) dan Singapura (38,8). Adapun, kondisi manufaktur di Asia Tenggara secara keseluruhan terus memburuk pada akhir semester I/2020.

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com