Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan industri pengolahan masih tumbuh positif sebesar 2,06 persen pada kuartal I/2020 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan kinerja industri pengolahan tercatat positif. "Ada beberapa kategori industri alami kontraksi," katanya, Selasa (5/5/2020).

Adapun penyebab utama melambatnya pertumbuhan industri pengolahan nonmigas terlihat dari perlambatan komposisi impor bahan baku yang terlihat negatif. Suhariyanto mengatakan dari sisi ekspor komoditas industri pengolahan nonmigas juga mengalami perlambatan.

Fenomena utama yang memengaruhi kinerja industri pengolahan kuartal I/2020 adalah industri makanan dan minuman yang tumbuh melambat sebesar 3,94 persen. Menurunnya kinerja industri mamin disebabkan menurunnya demand luar negeri, terermin dari kontraksinya ekspor komoditas mamin.

"Industri kimia, farmasi dan obat tradisional tumbuh 5,59 persen yang didukung oleh peningkatan produksi barang kimia dan obat-obatan untuk memenuhi permintaan luar negeri dan melonjaknya permintaan domestik akibat mewabahnya virus corona," tambahnya.

Di sisi lain, industri batu bara dan pengilangan migas malah tumbuh 2,58 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2019. Suhariyanto mengatakan capaian ini lebih baik daripada kinerja pertumbuhan industri batu bara dan pengilangan migas sebelumnya. Setidaknya pada kuartal I/2019, industri batu bara dan pengilangan minyak bertumbuh negatif 4,25 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2018.

"Pertumbuhan didukung oleh peningkatan produksi bahan bakar minyak dan LPG seiring dengan peningkatan impor BBM," ujarnya.

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com