Pelaku bisnis petrokimia optimistis potensi ekspor polimer atau bahan baku plastik menjadi bantalan untuk bertahan dalam menghadapi dampak virus corona atau Covid-19.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik (Inaplas) Fajar Budiyono mengatakan di tengah pandemi Covid-19 kabar baik dari perekonomian China yang mulai puliha. Pasalnya, landainya permintaan dalam negeri akan diimbangi dengan ekspor ke sejumlah negara yang mulai pulih.

"Tidak lama lagi India juga akan [industrinya] dibuka kabarnya, artinya ini jadi peluang kami untuk cepet-cepetan mengambil pasar lain setelah memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dari hitungan kami, industri hulu dengan utilisasi yang masih normal dikisaran 90 persen saat ini akan mampu mengekspor polimer 30.000 ton mininal per bulan," katanya kepada Bisnis, Senin (4/5/2020).

Menurutnya, pelaku industri hulu yang akan menikmati dampak positif tersebut antara lain PT Chandra Asri Petrochemical, PT Polytama Propindo, Lotte Chemical, dan PT SAI. Selain China dan India, para perusahaan tersebut juga bersiap memgambil pasar di Bangladesh.

Dari hilir, sejumlah pemain memang turun tetapi beberapa sektor ada yang tumbuh seperti flexible packaging karena permintaan belanja daring yang meningkat. Selain itu, kebutuhan bahan baku untuk APD dan masker juga kian deras mencatat permintaan.

Sementara itu, permintaan untuk sektor kemasan makanan hanya naik sedikit. Paling loyo, lanjut Fajar, datang dari pasar peralatan rumah tangga, konstruksi, otomotif, dan yang sifatnya bukan untuk pendukung makanan, minuman, serta farmasi.

"Jadi kalau digabungkan secara rerata memang masih ada penurunan untuk bahan utamanya atau olefin sekitar 20-40 persen, jadi kami harap jelang Lebaran bisa meningkat lagi kalau tidak tentu dengan bersiap mengekspor tadi," ujarnya.

Fajar menambahkan dengan kondisi di atas, industri hilir saat ini masih mencatatkan utilisasi di bawah 70 persen.

Sebelumnya, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA) menargetkan produksi non woven Polypropylene (PP) sebesar 30 kiloton per tahun (KTA) sampai dengan 40 KTA pada 2020 guna mendukung produksi di dalam negeri.

Emiten berkode saham TPIA itu memiliki kapasitas produksi PP sebesar 590 kilo ton per tahun dengan kode HS35NW. Barang ini merupakan bahan baku utama untuk dijadikan alat pelindung medis yaitu masker bedah dan baju pelindung diri.

PP juga dapat dapat dipakai dalam beberapa aplikasi seperti untuk bahan tas guna ulang spunbond, kebutuhan bahan pakaian non woven seperti baju pelindung diri dan masker bedah. Khusus untuk masker bedah yang memiliki tiga lapisan, bahan baku non woven ini diaplikasikan untuk lapisan pertama dan ketiga.

Presiden Direktur Chandra Asri Petrochemical Erwin Ciputra mengatakan perseroan telah memperkenalkan jenis barang ini untuk pasar Indonesia sejak beberapa tahun terakhir. Dia menyebut, pandemi covid-19 menyebabkan kebutuhan alat pelindung diri dan masker bedah semakin besar terutama untuk memenuhi kebutuhan para tenaga medis.

“Dengan tingginya kebutuhan akan baju pelindung diri dan masker bedah saat ini, kami berkomitmen untuk menjamin ketersediaan pasokan bahan baku dalam negeri tetap tercukupi dan secara konsisten meningkatkan kapasitas produksi untuk produk tersebut sesuai kebutuhan. Selain itu, kami juga tingkatkan kapasitas untuk penuhi pasar ekspor,” katanya melalui siaran pers pekan lalu.

Inaplas mencatat, saat ini permintaan kebutuhan masker dalam negeri berkisar 60 juta dan untuk APD sekitar 10-12 juta tetapi dengan berbagai ketidakpastian kondisi dan proyeksi berbagai sumber lembaga angka itu bisa lebih kecil atau besar.

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com