Asosiasi Rantai Pendingin (ARPI) menyatakan pertumbuhan instalasi rantai pendingin tahun ini akan tetap lebih tinggi dari tahun lalu. Pasalnya, industri rantai pendingin sama sekali tidak memiliki restriksi pada masa pembatasan sosial berskala besar (PBSS).

Direktur Eksekutif ARPI Hasanuddin Yasni mengatakan pihaknya merubah target pertumbuhan pemasangan rantai pendingin pada tahun ini dari maksimal 7 persen menjadi sekitar 5 persen. Namun demikian, target tersebut tetap lebih tinggi dari realisasi tahun lalu yakni sebesar 4,61 persen.

"Kuartal I/2020 ini [produksi] istilahnya masih erlangsung normal. Sekarang masih dalam pengerjaan dan instalasi, cuma dalam kuartal II/2020 mereka [beberapa buyer] menunda, setidaknya sampai setelah Lebaran," katanya kepada Bisnis, Senin (6/4/2020).

Hasanuddin mendata produksi dan instalasi rantai pendingin pada kuartal I/2020 mencapai 2 persen secara tahunan, sedangkan kuartal II/2020 pertumbuhannya akan melambat menjadi 1 persen. Namun demikian, Hasanuddin menyampaikan pabrikan tetap optimistis produksi dan pemasangan rantai pendingin hingga akhir tahun dapat tumbuh sekitar 6 persen.

Secara volume, Hasanuddin telah memangkas target pemasangan rak pendingin (pallet) dari 200.000 unit pada akhir tahun ini menjadi 150.000 pallet. Dengan kata lain, target pemasangan pallet batu asosiasi hingga akhir tahun adalah 105.000 ton dengan tingkat utilitas di sekitar level 70 persen.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 9/2020 tentang Pedoman PSBB, angkutan truk barang untuk keperluan distribusi bahan baku industri manufaktur dan assembling juga akan dikecualikan dari beleid tersebut. Selain itu, industri pendingin hampir selalu disebutkan dalam setiap poin pengecualian PSBB.

Hasanuddin menyatakan pertumbuhan produksi pada tahun ini akan didorong oleh kebutuhan transportasi berpendingin. Menurutnya, permintaan transportasi berpendingin akan naik 16-18 persen dari realisasi tahun lalu sebanyak 1.975 unit menadi sekitar 2311 unit.

Di sisi lain, Hasanuddin menyampaikan pihaknya akan bekerjasama dengan Kementerian Pertanian (Kementan) untuk menyesuaikan kembali harga ayam di pasaran. Seperti diketahui, harga ayam potong di pasaran kini telah anjlok ke sekitar Rp20.000.

"Kementan mau bantu penyimpanan untuk peternak mandiri. Peternak mandiri trauma [saat ini], maksudnya DOC [day old chicken] mereka [sekarang] dibuang biar harganya tidak [terus] jatuh [di pasaran]," ujarnya.

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com