Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita berharap Indeks manajer pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) nasional meningkat pada Februari dan kembali di atas level 50,0 pada medio kuartal I/2020.

Padahal, PMI Indonesia tercatat hanya dua kali berada di atas level 50,0 saat awal tahun yakni pada 2014 di level 51,0 dan pada 2017 di level 50,4.

Agus mengatakan tertekannya PMI Indonesia disebabkan menurunnya order baru, ekspor baru, dan output industri yang landai. Di sisi lain, penurunan kinerja menjadi signifikan mengingat rendahnya PMI Indonesia sejak enam bulan belakangan atau belum terjadi lagi sejak 2015.

"Kondisi penurunan di bulan Januari terjadi karena industri pada umumnya menurunkan pembelian [bahan baku] dan produksi pada akhir tahun pada Desember dan baru memulai lagi meningkatkan produksi di akhir Januari 2020," katanya kepada Bisnis.com, Senin (3/2/2020).

Untuk mendongkrak kinerja, Agus pun berjanji akan menerbitkan regulasi yang dapat menstimuli kenaikan PMI Indonesia pada Februari 2020. Mantan Menteri Sosial ini pun menyatakan beberapa strategi yang disiapkan adalah pemenuhan bahan baku industri makanan dan minuman (mamin) dan menyesuaikan tarif gas bagi industri.

Terpisah, Ketua Umum Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) Silmy Karim menyatakan kondisi industri baja sejalan dengan keadaan PMI Indonesia selama 7 bulan terakhir. Menurutnya, kegiatan produksi di pabrikan cukup berat lantaran arus impor ke dalam negri yang deras.

"[Tapi, saat ini] agak membaik karena impor baja mulai sulit," katanya.

Silmy menyatakan pabrikan baja nasional sejauh ini hanya menyelesaikan komitmen investasi yang sudah lama. Adapun, Silmy menyarankan agar pemerintah menahan masuknya investasi asing ke industri hulu baja.

INVESTASI MANUFAKTUR

Terkait realisasi investasi, Kemenperin mengklaim industri manufaktur mampu memberikan kontribusi yang cukup signfikan terhadap capaian nilai investasi nasional pada tahun lalu.

Tercatat penanaman modal dalam negeri (PMDN) sektor industri sebesar Rp72,7 triliun atau 18,8 persen dari perolehan total PMDN sebesar Rp386,5 triliun. Sementara itu, penanaman modal asing (PMA) di sektor industri menyentuh Rp143,3 triliun atau 33,8 persen dari perolehan total PMA yang mencapai Rp423,1 triliun.

Secara keseluruhan, sektor industri menggelontorkan dana hingga Rp216 triliun atau berkontribusi 26,7 persen dari total realisasi investasi di Indonesia senilai Rp809,6 triliun pada 2019.

Adapun lima sektor manufaktur yang menyumbang nilai investasi paling besar pada tahun 2019, yaitu industri logam dasar dengan capaian Rp58,3 triliun, kemudian diikuti industri makanan dan minuman Rp54 triliun, industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia Rp23,5 triliun, industri barang galian bukan logam Rp10,7 triliun, serta industri kertas dan barang dari kertas Rp8,9 triliun.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pemerintah sedang fokus mengerek nilai investasi guna memperkuat struktur perekonomian nasional. Salah satu sektor yang berperan penting adalah industri manufaktur, karena pertumbuhannya akan meningkatkan penerimaan devisa dan menciptakan lapangan kerja.

“Presiden menyampaikan bahwa pembangunan sektor industri khususnya manufaktur merupakan hal yang sangat penting bagi sebuah negara. Sebab, beliau memang seorang industrialis, sehingga mengetahui betul kebutuhan atau kendala para pelaku industri,” katanya.

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com