Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS cenderung mengalami penguatan belakangan ini. Meski begitu, sebagian produsen tekstil dan garmen optimis kinerja penjualan ekspornya tidak akan terpengaruh oleh fluktuasi pergerakan nilai tukar rupiah secara signifikan.

PT Pan Brothers Tbk misalnya, emiten garmen yang memiliki kode saham PBRX ini mengaku telah mengantisipasi kemungkinan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Sekretaris Perusahaan PT Pan Brothers Tbk, Iswar Deni mengatakan bahwa proyeksi pertumbuhan kinerja perseroan dibuat berdasarkan asumsi nilai tukar rupiah pada rentang Rp 13.000 per dolar AS-Rp 14.000 per dolar AS. “Jadi dampaknya tidak terlalu signifikan,” kata Iswar ketika dihubungi oleh Kontan.co.id (31/1).

Dengan adanya tindakan antisipasi ini, perseroan optimis bisa membukukan pertumbuhan penjualan bersih sebesar 10%-15% dibanding tahun lalu pada tahun ini sebagaimana yang sudah ditargetkan sebelumnya.

Asal tahu saja, sepanjang sembilan pertama tahun 2019 lalu, penjualan ekspor PBRX tercatat sebesar US$ 463,85 juta atau setara dengan 94,03% dari total penjualan.

Senada, Corporate Communication PT Sri Rejeki Isman Tbk Joy Citradewi mengatakan bahwa tren penguatan rupiah tidak akan terlalu berpengaruh terhadap kinerja penjualan ekspor perseroan. Pasalnya, sebanyak 50% dari bahan baku yang digunakan dalam kegiatan produksi perseroan mengandalkan bahan baku impor yang dibeli dengan menggunakan mata uang dolar AS.

Dengan demikian, nilai penjualan ekspor yang diperoleh akibat pelemahan kurs dolar AS terhadap rupiah akan tertutupi oleh beban pokok penjualan atawa cost of goods sold (COGS) yang juga ikut berkurang akibat penguatan rupiah. Terlebih, sekitar 70% dari COGS perseroan berasal dari pembelian bahan baku. “Jadi otomatis akan terjadi natural hedge,” jelas Joy kepada Kontan.co.id (31/1).

Oleh karenanya, emiten garmen yang memiliki kode saham SRIL ini tetap teguh akan menggenjot penjualan ekspor dengan porsi di atas 60% dari total penjualan perseroan.

Meski begitu, penguatan rupiah terhadap dolar AS juga rupanya bisa berdampak buruk terhadap kinerja ekspor produsen garmen lain. HR & GA Manager PT Ungaran Sari Garments, Cipto Santosa mengatakan bahwa penguatan mata uang rupiah berpotensi menekan pendapatan produsen garmen yang berorientasi ekspor.

Apalagi, hal ini terjadi di tengah kemunculan tantangan-tantangan lain seperti kenaikan besaran UMK dan sebagainya. “Basic logic-nya kalau nilai tukar rupiah ke dolar AS naik maka akan ada pengaruh ke revenue dan operational cost,” ujar Cipto kepada Kontan.co.id (31/1).

Senada, Direktur PT Ricky Putra Globalindo Tbk (RICY) Tirta Heru Citra berujar penguatan rupiah atas dolar AS berpotensi menggerus keuntungan ekspor produsen garmen. Pasalnya, besaran harga jual dalam dolar AS sudah ditentukan dari awal ketika pesanan ekspor diterima. “Pada saat kita konversi ke rupiah uang yang kita terima menjadi lebih kecil,” jelas Tirta ketika dihubungi oleh Kontan.co.id (31/01).

Sumber: https://industri.kontan.co.id