Kendati pelaku usaha meyakini investasi industri kimia dan farmasi masih akan melandai tahun ini, tetapi ekonom menilai masih ada peluang untuk bertumbuh.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan pada tahun lalu faktor biaya bahan baku yang meningkat sempat menjadi indikasi utama. Hal itu lantaran terjadi karena fluktuasi nilai mata uang rupiah.

"Akibatnya ada biaya produksi yang naik tahun lalu. Belum lagi di sektor farmasi ada defisit BPJS Kesehatan yang cukup berpengaruh khususnya produsen obat generik," katanya, Kamis (30/1/2020).

Bhima mengemukakan pada tahun ini karena ada proyeksi penguatan dari sisi penguatan kurs rupiah, maka industri kimia dan farmasi berpeluang akan ada perbaikan dibandingkan dengan 2019.

Tentunya, lanjut Bhima, penguatan nilai mata uang garuda harus berjalan konsisten agar tidak kemudian melemah lagi.

Bhima menambahkan khusus untuk industri farmasi lagi, adanta wabah virus corona juga akan membuat keuntungan sendiri. Pasalnya, kondisi itu akan membuat masyarakat makin sadar kesehatan. Alhasil, obat-obatan flu makin laris, peningkatan suplemen makanan pun akan terjadi.

Sebelumnya, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) merilis realisasi industri sektor kimia dan farmasi sepanjang 2019.

Hasilnya, Penanaman Modal Dalam Negeri atau PMDN tercatat melandai dengan penurunan 28,8 persen menjadi Rp9.484,91 miliar dengan 977 proyek dibandingkan dengan periode 2018 Rp13.337,72 miliar dengan 638 proyek.

Adapun dari Penanaman Modal Asing atau PMA juga turut anjlok 23,3 persen menjadi US$1.486,41 juta dengan 1.280 proyek dibandingkan periode 2018 US$1.938,34 miliar dengan 1.001 proyek.

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com