Asosiasi Mainan Indonesia (AMI) memproyeksikan industri mainan mampu tumbuh 7,5% di sepanjang 2020. Proyeksi tersebut turun jika dibandingkan pertumbuhan di 2019 sebesar 10%.

Ketua Umum Asosiasi Mainan Indonesia (AMI) Sutjiadi Lukas menjelaskan memang benar proyeksi industri mainan turun karena pengusaha mainan tidak berbicara muluk-muluk.

"Saat ini kami bisa berusaha dengan aman saja sudah bagus dan ada untung sedikit saja itu sudah baik karena adanya persaingan dagang," jelasnya kepada Kontan.co.id, Senin (13/1).

Asal tahu saja, pada tahun lalu industri mainan dalam negeri khawatir dengan masuknya mainan impor yang tidak berlabel Standard Nasional Indonesia (SNI) lewat platfom online. Meski demikian, Sutjiadi menegaskan saat ini seluruh mainan impor sudah berstandar SNI.

Adapun di sepanjang tahun ini industri mainan tetap harus menghadapi tantangan berupa permintaan pasar yang lesu sehingga impor mainan turun sekitar 10%.

Di sepanjang 2019, industri mainan Indonesia kedapatan sejumlah komitmen investasi dari China. Salah satunya pengadaan mesin bagi industri mainan melalui skema kredit. Nah di 2020 ini nampaknya AMI agak sedikit pesimistis dengan komitmen investasi dari luar negeri akan bertambah.

Pasalnya investor luar belum berani karena iklim industri dalam negeri yang sejauh ini belum mendukung. Dia mencontohkan aksi demo buruh, perizinan yang rumit karena adanya 'raja-raja' kecil yang berkuasa membuat investor luar negeri wait and see.

Di sepanjang tahun ini, Sutjiadi mengungkapkan pertumbuhan industri mainan tumbuh 7,5% dan diharapkan tidak terjadi hambatan seperti gejolak politik.

Selain itu Sutjiadi juga berharap adanya pertumbuhan ekonomi yang baik sehingga orang tua mempunyai dana lebih untuk membelikan anaknya mainan. "Mainan merupakan kebutuhan sekunder," ujarnya.

Sumber: https://industri.kontan.co.id