Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mematok target investasi yang masuk ke Indonesia mencapai Rp 886 triliun di tahun 2020 ini. Berbagai sektor industri diperkirakan masih menggeliat aliran investasinya, salah satunya manufaktur.

Dari sisi tekstil misalnya, dengan populasi penduduk yang besar dan sudah memiliki banyak pemain di bidang ini, Indonesia masih dipercaya sebagai ladang para pengusaha tekstil berinvestasi.

"Khususnya untuk garmen saya lihat masih ada kemungkinan menambah lagi," sebut Rizal Rakhman, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) kepada Kontan.co.id, Selasa (31/12).

Dari sektor hilir tekstil yakni garmen, tampaknya masih punya potensi untuk tumbuh, namun dari sisi hulu dan tengah tekstil kata Rizal masih belum ada tanda-tanda menambah investasi.

Kondisi ini disebabkan oleh penyerapan bahan baku tekstil asal dalam negeri yang masih belum maksimal, sehingga pelaku usaha masih wait and see.

"Sementara untuk garmen memang ekspornya menguat akibat imbas dari perang dagang," kata Rizal.

Namun perolehan tersebut belum mampu menggambarkan keseluruhan industri tekstil, ia berharap pemerintah dapat mendorong penyerapan bahan Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) dalam negeri, agar secara konsolidasi industri tekstil dapat terus bertumbuh.

Berkaca pada laporan BKPM sampai kuartal-III 2019 total investasi dalam negeri di bidang tekstil mencapai Rp 1,02 triliun sedangkan investasi dari luar negeri sekitar US$ 165 juta.

Salah satu contoh perusahaan tekstil yang tercatat ekspansif di tahun ini misalnya PT Pan Brothers Tbk (PBRX) yang mengalokasikan belanja modal US$ 15 juta guna menambah kapasitas dan otomatisasi permesinan.

Di sektor lain, petrokimia, investasi sudah mulai masuk di akhir tahun ini, apalagi dengan usainya momentum pemilu menjadikan pelaku industri lebih percaya diri untuk mengumukan masuk di sektor tersebut.

Fajar Budiono, Sekjen Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) mengatakan bahwa secara global investasi di sektor petrokimia belum bergairah dan terjadi perlambatan, yang salah satu akibatnya trade war.

Di tengah memanasnya perang dagang menurut Fajar, Indonesia dapat mengambil kesempatan investasi dari pabrikan China yang mana produknya terkendala masuk ke AS.

"Namun seberapa efektif Indonesia mendapatkannya, negara lain juga melirik ke sini," ungkapnya.

Tantangan untuk menghadirkan investasi petrokimia di dalam negeri, selain regulasi yang mendukung juga ketersediaan lahan. Ini penting, kata Fajar, sebab tidak banyak lahan luas yang cocok bagi industri petrokimia yang tersedia di Indonesia saat ini.

BKPM tidak mencatatkan secara khusus sektor petrokimia. Namun dapat ditelusuri pada kelompok industri kimia dan farmasi serta kelompok industri plastik dan karet, dimana realisasi masing-masing industri tersebut sampai kuartal ketiga tahun ini mencapai US$ 1,02 miliar dan US$ 248 juta untuk Penanaman Modal Asing (PMA).

Untuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) masing-masing kelompok industri mencatatkan nilai Rp 6,79 triliun dan Rp 2,38 triliun di sembilan bulan pertama tahun ini.

Adapun di dalam negeri, PT Chandra Asri Petrochemicals Tbk (TPIA) juga diketahui tengah menambah investasi dengan pembangunan tahap kedua kompleks petrokimianya.

Sumber: https://industri.kontan.co.id