Asosiasi Aneka Keramik (Asaki) menetapkan target pertumbuhan produksi pada 2020 sekitar 4%—5%.

Ketua Umum Asaki Edy Suyanto mengatakan rendahnya target pertumbuhan tersebut lantaran derasnya arus impor keramik dari China, India, dan Vietnam. Menurutnya, dukungan pemerintah sangat diperlukan agar utilitas pabrikan keramik dapat kembali sehat.

“Kecuali safeguard terhadap India dan Vietnam serta penetapan kuota impor dijalankan, Asaki optimis pertumbuhan double digit bisa terwujud dan tingkat utilisasi bisa beranjak naik ke angka 85%—90% dalam waktu 1 tahun — 2 tahun ke depan,” ujarnya kepada Bisnis, baru-baru ini.

Edy menyatakan tahun ini utilitas produksi pabrikan keramik berada di level 67,74% dengan total produksi sekitar 340 juta—350 juta meter persegi (square meter/sqm). Utilitas tersebut meningkat dari tahun lalu yakni 60,39% dengan total produksi 308 juta sqm.

Jika utilitas pabrikan keramik naik ke sekitar 85%—90%, dalam 2 tahun, pertumbuhan majemuk tahunan produksi keramik selama 2019—2021 adalah 13,73% menjadi sekitar 446,25 juta sqm.

“Kita bisa bayangkan berapa tenaga kerja yang bisa kembali bekerja jika pabrik-pabrik meningkatkan kembali utilisasinya. Dukungan pemerintah sangat diperlukan,” katanya.

Edy mengatakan pihaknya kini menunggu percepatan harmonisasi Peraturan Pemerintah (PP) No. 34/2011 tentang perlindungan perdagangan. Asaki mengusulkan agar penambahan bea masuk yang dikenakan terhadap produsen China juga dikenakan pada produsen dari India dan Vietnam.

Selain itu, lanjutnya, Asaki juga mengusulkan penerapan pembatasan pelabuhan impor dan penerapan safeguard berupa kuota impor bagi negara asal keramik impor.

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com