Kementerian Perindustrian optimistis pelaku manufaktur di sektor elektronik bisa memanfaatkan celah pasar di Amerika Serikat di tengah perang dagang yang masih berlanjut dengan China.

Pemerintah pun terus mendorong pelaku industri kecil dan menengah agar mampu mendukung pelaku industri besar.

Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kementerian Perindustrian Janu Suryanto mengatakan sebenarnya sudah ada sejumlah pelaku industri elektronik nasional yang mengeskpor produknya ke Amerika Serikat. Nilainya, jelas dia, bahkan sudah mencapai kisaran US$1 miliar.

Kendati begitu, pelaku usaha yang merealisasikan hal itu tergolong industri besar. Dia mencontohkan ekspor produk CCTV.

Pada 2020, sambung dia, produsen vacuum cleaner lokal juga akan merambah pasar Negeri Paman Sam.

"Yang baru ekspor CCTV, pabrik nya di Tangerang. Airpurifier juga sudah dan tahun depan ada ekspor vacuum cleaner," ujarnya kepada Bisnis.com, Kamis (12/12/2019).

Janu mengakui selama ini masih menjadi sektor pendukung bagi produsen besar. Dia mencontohkan IKM dapat memasok charger untuk produk vacuum cleaner yang diproduksi industri besar.

Kemenperin, jelasnya, bakal terus mendorong pelaku IKM agar bisa lebih jauh terlibat dalam rantai pasok ekspor elektronika tersebut.

"Kementerian Perindustrian bantu melalui bimtek, sertifikasi dan fasilitas lain sesuaikan aturan perundangan yang berlaku," ujarnya.

Janu mengakui potensi pasar Amerika Serikat memang besar. Menurutnya, impor produk AS mencapai US$150 miliar, sedangkan ekspor produk Indonesia ke Negeri Paman Sam baru mencapai US$1 miliar atau meningkat sekitar 10%.

Dia berharap ke depan nilai impor tersebut bisa terus bertumbuh dengan momentum perang dagang tersebut.

"Masih sangat besar [potensinya], hanya barang yang di ekspor kualitas tinggi."

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani mengatakan sejumlah sektor manufaktur perlu dioptimalkan untuk mengisi celah potensi ekspor produk ke Amerika Serikat pada 2020. Setidaknya ada lima sektor yang berpotensi besar di tengah perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

Kelima sektor tersebut adalah tekstil, furnitur, elektronik, makanan dan minuman (mamin), serta produk karet. Apindo, jelasnya, bakal mendorong sektor-sektor tersebut agar mampu memenuhi kebutuhan produk manufaktur di AS yang ditinggalkan China.

"Untuk 2020, sekarang kami sedang kumpulkan satu per satu. Kami ingin tingkatkan ekspor sesuai kebutuhan di sana, sehingga proses industri dalam negeri perlu dioptimalkan," ujarnya.

Untuk mengisi celah itu, Shinta mengatakan Apindo akan mendorong konsep sinergi antara pelaku industri besar, menegah, kecil dan bahkan mikro. Kebutuhan produk di AS, jelasnya, akan dipenuhi secara bersama-sama oleh seluruh pelaku usaha di sektor tersebut.

Menurutnya, skema itu akan memberdayakan pelaku IKM yang sepanjang tahun ini banyak tertekan di dalam negeri.

"Kami ingin baurkan sehingga dampaknya sampai ke bawah. Yang kecil menjadi bagian supply chain yang besar," ujarnya.

Shinta mengakui saat ini hanya sektor elektronik yang dihadapkan pada kendala lantaran saat ini masih banyak didominasi oleh pemain besar.

"Elektronik yang masih menjadi kendala. Untuk itu, kami akan dorong [sektor elektronik] lebih kepada supporting industry. Ini pekerjaan rumah agar pemain lokal, yang kecil-kecil juga bisa terlibat dengan memasok komponen tertentu."

Daniel Suhardiman, Ketua Bidang Home Appliance Gabungan Pengusaha Elektronik (Gabel), sebelumnya mengatakan perang dagang antara Amerika Serikat dan China memang menjadi faktor yang memengaruhi pertumbuhan industri elektronika dalam negeri. Kendati begitu, dia mengatakan eskalasi ketegangan perdagangan antarnegara itu juga tetap menghadirkan peluang bagi ekspor produk elektronika asal Indonesia.

"Perang dagang membuat barang-barang [elektronik] China itu diberi tarif tinggi, sehingga terjadi relokasi ke Vietnam. Sepertinya AS juga sudah melihat Vietnam sebagai bagian dari China, sehingga ada oppurtunity untuk Indonesia," ungkapnya kepada Bisnis baru-baru ini.

Daniel, yang juga menjabat sebagai Direktur PT Panasonic Manufacturing Indonesia (PMI), menjelaskan adanya potensi resesi ekonomi global pun tidak menjadi soal bagi pelaku usaha dalam negeri. Pasalnya, pasar Indonesia masih sangat besar untuk digarap.

Apalagi, jelasnya, resesi global tidak menjadi situasi baru bagi produsen elektronika.

"Itu seperti tren 10 tahunan dan saya pikir, pelaku di sini sudah biasa dengan itu. Bedanya, kami [produsen lokal] punya pasar dengan demand besar," ujarnya.

Menurut Daniel, pasar produk home appliance masih akan terus bertumbuh, baik didukung oleh pembeli baru maupun pembelian berulang atau replacement.

Peluncuran produk baru, jelasnya, memang menjadi pilihan bagi pelaku usaha untuk bersaing dan menjaga pangsa pasarnya. Inovasi, sambung dia, menjadi kunci bagi pelaku usaha untuk terus meningkatkan pangsa pasar.

"Pasar dalam negeri masih ada, tinggal persaingan saja. Bukan solah harga, tetapi mesti ada inovasi, seperti yang didorong pemerintah, persaingan dari sisi inovasi, safety, dan kualitas."

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com