Industri gula rafinasi optimistis memandang potensi bisnis di tahun depan. Cerahnya prospek industri makanan dan minuman (mamin) di tahun 2020 menjadi dasar kepercayaan diri para pelaku industri ini.

Rachmad Hariotomo, Ketua Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) menyebut selama ini industri mamin memang menjadi tulang punggung bisnis bagi para pelaku bisnis gula rafinasi di dalam negeri. Nah di tahun depan, sektor industri tersebut dinilainya bakal makin bergairah.

Pasalnya menurut dia, tren industri mamin selalu mengalami kenaikan dai tahun ke tahun. Termasuk di tahun 2019 ini, meskipun diakuinya menemui beberapa tantangan.

Hal tersebut di antaranya dari situasi tahun politik yang terjadi di tahun ini sehingga menyebabkan pertumbuhan industri mamin sempat tersendat.

Kondisi tersebut membuat pelaku industri cenderung menahan diri dalam berekspansi. Hal ini pun membuat permintaan gula rafinasi sempat mengendor.

Namun sejak memasuki kuartal III, pertumbuhan industri mamin disebutnya sudah mulai ngegas.

"Sementara di tahun depan kondisi politik diyakini akan jauh lebih kondusif sehingga pertumbuhan industri mamin bisa lebih stabil," katanya, Rabu (11/12).

Ia memperkirakan, di tahun depan pertumbuhan industri mamin bisa berada di kisaran 9%.

Sementara untuk kebutuhan gula rafinasi di tahun 2020, Rachmad memperkirakan kebutuhan gula rafinasi oleh para pelaku industri mamin akan berada di kisaran 2,9 juta ton. "Cukup stabil dari proyeksi kebutuhan di tahun ini," ungkap dia.

Di sisi lain, ia juga mengakui tren perlambatan ekonomi global juga bisa berdampak pada pertumbuhan industri mamin. Tak pelak hal ini pun menjadi tantangan yang harus dihadapi pelaku industri.

Sumber: https://industri.kontan.co.id