Hubungan perdagangan Indonesia dan Korea Selatan semakin erat dengan ditekennya sejumlah perjanjian. Korea Selatan di mata Indonesia merupakan negara yang sangat bersahabat dan memiliki potensi bisnis yang tinggi.

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengungkapkan Korea Selatan merupakan negara yang sangat penting dan dekat dengan Indonesia. Tercermin dari banyaknya perusahaan Korsel yang beroperasi di Indonesia.

"Mereka telah beroperasi di Indonesia selama bertahun-tahun dan mempekerjakan sekitar 900.000 orang," kata Agus dalam misi dagang di Hotel Lotte, Busan, Korea Selatan, Rabu (27/11/2019).

Dia mengungkapkan, Korea Selatan juga merupakan investor ketiga terbesar di Indonesia. Korsel berinvestasi di industri dasar seperti besi dan baja, petrokimia sampai aluminium. Selain itu, Korsel merupakan salah satu dari 5 ekonomi peringkat teratas di kawasan dengan produk domestik bruto (PDB) US$ 31.350 per kapita per tahun pada 2018 dan memiliki perekonomian serta lingkungan politik yang stabil.

Agus menceritakan, kerja sama yang baik dengan Korsel juga tercermin saat partisipasi dari delegasi bisnis Korsel di Trade Expo Indonesia, saat itu Korsel merupakan pembeli tetap. Saat itu ada 85 delegasi bisnis Korsel yang mengunjungi acara tersebut dan transaksi yang berhasil dikantongi adalah US$ 34,9 juta dengan produk makanan olahan, produk agro, kulit, kopi, alas kaki, perhiasan, mebel, minyak esensial, dan kerajinan tangan.

Investor Korsel diajak untuk berinvestasi dan bertransaksi dengan Indonesia. Agus mengungkapkan, saat ini Indonesia telah menjadi negara yang lebih baik dan mencapai stabilitas ekonomi yang luar biasa.

"Ini adalah momentum terbaik untuk anda yang ingin berkolaborasi bisnis dengan Indonesia. Ini adalah waktu yang tepat untuk memperkuat kemitraan dengan Indonesia agar mendapatkan manfaat yang lebih baik dari pasar regional dan global," imbuh dia.

Agus mengungkapkan dalam misi dagang ke Korsel, dia membawa pelaku bisnis yang mewakili berbagai lini bisnis termasuk, produk keramik, benang, kayu lapis, veneer, konjak bubuk, produk ikan dan ikan, rumput laut, garmen, kelor, bubuk kakao, kopi, minyak kelapa sawit, jasa keuangan dan badan investasi.

"Mereka ada di sini karena mereka ingin bermitra dengan bisnis Korea untuk memanfaatkan dengan lebih baik Indonesia-Korea CEPA," ujarnya.

Sumber: https://finance.detik.com