Nilai ekspor industri mainan diproyeksikan mencapai US$500 juta pada akhir tahun ini seiring kenaikan pangsa pasar produk lokal di Amerika Serikat.

Asosiasi Pengusaha Mainan Indonesia (APMI) menyatakan sebagian investasi baru dari China sudah mulai terealisasi pada tahun ini. Sejumlah investor dari China dan Hongkong juga sedang menjajaki kerja sama dengan pabrikan lokal.

“Kalau tumbuh 10% [tahun ini] saya optimis. Tahun 2018 ekspor kami di sekotar angka US$400 juta. Saya yakin pada tahun ini bisa mencapai US$500 juta. Mungkin tahun depan lebih tinggi lagi,” kata Ketua APMI Sudarman Wijaya kepada Bisnis, Senin (18/11/2019).

Sudarman mengatakan Indonesia merupakan salah satu dari tiga tujuan relokasi pabrikan mainan dari China setelah India dan Vietnam. Menurutnya, ada sejumlah faktor yang membuat investor dari Negeri Tirai Bambu masih ragu untuk memindahkan pabriknya ke dalam negeri, salah satunya ialah problem sistem pengupahan dan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) di dalam negeri.

Upah minimum nasional tercatat naik lebih dari 30% sepanjang 2016—2020. Sudarman mengatakan walaupun nilai upah domestik masih lebih rendah, hal tersebut tidak diikuti dengan jumlah sumber daya manusia yang ada.

Sudarman memberi contoh pada penjajakan salah satu investor China di Jepara. Menurutnya, walaupun lokasi dan upah tenaga kerja sudah cocok, tapi ketersediaan tenaga kerja di Jepara minim.

“Industri furnitur [di Jepara] sudah down, tapi mereka pindah ke [pabrik] rokok. Kalau diliihat dari populasi besar, tapi untuk per wilayah harus lebih detail lagi,” katanya.

Menurut Sudarman, investasi ke industri mainan juga tertahan lantaran ketersediaan bahan baku masih rendah. Dia mengatakan sekitar 35%—40% bahan baku bagi industri mainan masih bergantung dari impor.

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com