Performa industri kosmetika pada tahun ini dinilai tumbuh positif di tengah pelemahan daya beli konsumen.

Salah satu pendorongnya diprediksi datang dari perubahan gaya hidup konsumen yang kini telah memandang kosmetika sebagai kebutuhan primer dari sebelumnya tersier.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendata ekspor produk kosmetik pada 2018 naik 7,63 persen menjadi US$556,36 juta dari realisasi tahun sebelumnya US$516,88 juta. Adapun, Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) optimistis nilai produksi industri kosmetika dapat tumbuh 6 persen--8 persen hingga akhir tahun ini.

“Kalau dulu cosmetic is a luxury, [sekarang] sudah tidak dan anak muda pun take care of their skin. [Penjualan] kosmetik saat ini seperti busana. Seperti Shopee, yang paling pesat itu [penjualan] kosmetik, saya pikir mencapai sepertiga [penjualan],” ujar Direktur PT Pamerindo Indonesia Juanita Soerakoesoemah di sela-sela ajang Cosmobeaute 2019 kepada Bisnis.

Juanita mengatakan perubahan gaya hidup tersebut membuat persebaran klinik kecantikan dan salin semakin marak. Alhasil, pertumbuhan jumlah pelaku industri kosmetika pun mengikuti pertumbuhan tersebut, khususnya pada level industri kecil dan menengah (IKM).

Terpisah, Sekretaris Perkosmi Bali Ida Ayu Putu Surya Esti P menilai target pertumbuhan 6 persen--8 persen pada tahun ini cukup realistis.

Di samping itu, Ida berujar salah satu kelemahan kosmetika produksi lokal adalah promosi ke masyarakat. Maka dari itu, lanjutnya, keberpihakan pemerintah pusat maupun daerah kepada produksi kosmetika domestik menjadi penting.

Menurutnya, pemerintah daerah Bali telah menginstruksikan agar peritel dan sektor perhotelan di Pulau Dewata untuk memprioritaskan penjualan dan penggunaan produk kosmetika lokal. Hal tersebut guna menggenjot produksi IKM kosmetika di Bali.

“[Kualitas kosmetika lokal] sama dengan [produsen kosmetika] yang gede, yakin saya,” katanya.

KOSMETIK TEMATIK

Sementara itu, Asosiasi Pengusaha Kesehatan dan Kecantikan Indonesia (APK2I) menyatakan industri kosmetika nasional tengah berupaya memproduksi kosmetik tematik yang dapat bersaing dengan produk kosmetika global. Secara tren, asosiasi melihat pergerakan tren kosmetika mulai mengarah ke Asia Tenggara.

“Saat ini [tren produk kosmetik] masih dari Korea Selatan, terus [turun] ke Thailand. Mereka masing-masing ada kosmetik tematik sendiri. Indonesia mau memiliki kosmetik tematik sendiri karena memang punya lumayan [banyak] bahan baku,” kata Sekretaris Jenderal APK2I Lina kepada Bisnis.

Lina menyampaikan kosmetika tematik yang akan diproduksi nantinya tidak akan menggunakan nama Indonesia, namun mengangkat nama masing-masing daerah asal bahan baku. Adapun, beberapa daerah yang telah disoroti asosiasi adalah Makassar dengan bedak hitam, Lombok dengan rumput laut, dan Bali dengan spa.

Menurutnya, asosiasi akan berusaha mengangkat banyak jenis produk kosmetika tematik. Salah satu cara yang akan didorong oleh asosiasi adalah peningkatan kapasitas produksi. Pasalnya, industri kosmetika di daerah yang disoroti oleh asosiasi masih berskala IKM.

Pada kesempatan berbeda, Direktur Bidang Industri Perkosmi Liandhajani sebelumnya memaparkan bahan baku masih menjadi tantangan lantaran sebagian besar kualitas bahan baku lokal tidak sesuai dengan permintaan industri.

Selain itu, asosiasi tidak memiliki rangkuman kebutuhan bahan baku mengingat pabrikan merahasiakannya atas nama persaingan pasar.

Liandhajani mencatat 90 persen dari total bahan baku industri kosmetika masih bergantung kepada impor.jumlah pelaku industri kosmetika di dalam negeri telah mencapai 760 unit usaha pada 2017. Adapun, pertumbuhan rata-rata industri kosmetika per tahun sekitar 7,2 persen.

Direktur Industri Kimia Hilir Kemenperin Taufi Bawazier mengatakan industri kimia hulu memiliki potensi besar untuk mengisi kebutuhan bahan baku kimia di dalam negeri. Namun demikian, kerahasiaan formula racikan produk di pengguna bahan kimia membuat kementerian sulit menelusuri permintaan bahan baku.

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com